Page I Ada yang datang dan Ada yang pergi

“…Ada yang datang, terus singgah di hati untuk beberapa saat lalu pergi dan entah kapan akan kembali atau memang tidak akan pernah kembali untuk selamanya …”

Butuh waktu untuk mencerna apa yang di katakan sahabat baiknya, perempuan berjilbab bernama Via.

Fariz hanya memandang kosong ke arah taman bunga yang ada di depannya, dia mengerti atas apa yang di dengarnya. Baginya saat-saat bersama ayahnya terasa sangat sebentar, ngobrol dari hati ke hati sambil minum kopi di teras rumahnya sungguh mengasyikkan, melihat bersama serial kartun favorit menjadi bagian yang tidak terlupakan. Kini sungguh itu akan jadi kenangan ketika Tuhan berkehendak untuk menjemput ayahnya ke tempat lain yang semoga lebih baik.

Fariz mengedipkan matanya seolah tersadar kalau Via memegang lembut pundaknya. “Udah baikan…?”, Via sedikit berbisik. Dengan suara bergetar Fariz berkata, “InsyaAllah Vi…?eh…sepertinya aku harus balik nih…aku tadi ga bilang kalau mau kesini…aku pulang yah…?”. Mereka berdua berdiri hampir bersamaan dari sebuah kursi taman yang berada di halaman rumah Via. Jabatan tangan dari dua sahabat mengakhiri obrolan malam itu, malam yang bagi Fariz sungguh menyempitkan hatinya.

Ia memilih untuk berjalan kaki menelusuri relung-relung jalanan yang mulai sepi seiring berjalannya waktu. Dingin menembus jaketnya yang tebal sekalipun, memang kota ini menunjukkan kekhasannya di bulan ini. Pikiran Fariz sempat melayang-layang menembus serpihan memori yang pernah di alami bersama ayahnya, “kenapa semuanya harus berakhir ketika aku ingin memulainya lagi dengan baik…?”

Sayup-sayup terdengar suara seseorang mengaji di masjid yang akan dilewatinya, ia heran pada dini hari seperti ini masih ada orang yang meluangkan waktunya untuk beribadah pada Tuhannya. Fariz teringat bahwa belum menunaikan sholat Isya’, ia segera menuju ke masjid itu untuk mensucikan dirinya dengan air wudhu yang akan menghilangkan bekas air mata di pipinya. Ia tunaikan sholat. Dalam sujud di rakaat terakhirnya ia memohon agar di berikan kekuatan atas apa yang menimpanya. Ia beranjak untuk segera pulang, sebelum melangkahkan kaki ia menyempatkan untuk menoleh sebentar kepada lelaki yang mengaji tadi yang membuatnya rindu untuk membaca kitab suci tersebut, “ahh…sepertinya sudah lama sekali aku tidak membaca Al-Quran, seingatku semenjak aku tamat SMA…ahh…kangen…?”

Perjalanan pulangpun ia lanjutkan. Teringat apa yang dikatakan Via padanya. Sekarang ialah lelaki satu-satunya dalam keluarga meskipun dia anak terakhir. Ialah orang pertama yang akan menjadi rujukan untuk memutuskan segala sesuatu yang berhubungan dengan keluarga. Ia pula yang harus bertangung jawab atas apa yang akan terjadi nantinya. Ia mulai menyadari itu. “Tak seharusnya aku terlena dengan kepedihan ini…aku mungkin bisa menangis tapi tidak di depan Ibuku…tidak di depan kakak-kakakku…aku harus kuat…aku bisa melalui masa sulit ini…?!”

Logikanya menembus di sela-sela serangan perasaan sedih yang mengurungnya beberapa hari ini. Sedikit demi sedikit akhirnya logika-lah yang memenangkan pertandingan batin ini. Pagar rumahnya mulai terlihat, Fariz menyakinkan pada dirinya bahwa TUHAN tidak menjanjikan hidup tanpa kesulitan dan matahari tanpa hujan, tetapi DIA menjanjikan kekuatan untuk menghadapi kesulitan dan cahaya untuk menerangi jalan yang akan dilaluinya. Ia mempercepat langkahnya, ingin rasanya memeluk ibunya dan memberi rasa aman pada keluarga ini, meringankan beban dengan mencoba untuk tersenyum kembali. Fariz berkata lirih, “..Ibu…tersenyumlah…aku datang…?!”


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: