Page II Wanita Berjilbab Merah

Tidak seperti hari Jumat biasanya, hari itu Fariz merasa begitu menyenangkan dalam melakukan pekerjaannya. Mulai dari pagi apa yang akan dia kerjakan hari itu sudah terangkum dalam suatu kertas yang terselip di meja bawah keyboard komputer kantornya. Satu persatu terselesaikan dengan baik. Itulah yang membuat hatinya senang saat itu ditambah lagi dengan waktunya bertemu dengan keluarga.

Bus menuju ke kota Malang tampak akan menghampiri Fariz yang menunggu tidak terlalu lama. Bergegas dia naik bus itu dengan hati-hati dan mencari-cari adakah tempat duduk yang kosong untuknya. Ternyata tidak didapatkannya. Dia telah menduga akan berdiri di bus selama perjalanan karena hari itu saatnya banyak orang mempunyai tujuan yang sama yaitu ingin segera pulang, bertemu sanak saudara dan melepas rindu serta melepas kepenatan setelah lima hari bekerja di luar kota.

Setelah beberapa kali pemberhentian akhirnya ada tempat duduk yang kosong, Fariz bergegas untuk mendudukinya. Perasaan lega terpancar di wajahnya. Sesekali dia menengok ke depan dan belakang untuk bisa memberikan tempat duduknya kepada orang-orang tua yang terpaksa harus berdiri karena jarang ada yang mau berbagi tempat duduk dalam bus yang penuh sesak. Fariz duduk di bangku yang hanya berisi dua orang tepatnya di samping jalan tengah yang digunakan lalu lalang sang kondektur dan orang-orang yang berdiri karena tidak dapat tempat duduk tapi tetap saja di masukkan kedalam bus meski sudah melebihi kapasitas penumpang.

“Permisi..?!”, tiba-tiba ada suara lembut yang mengejutkannya. 

Sekilas telihat seorang wanita yang berdiri tepat di sampingnya, tangan kanan membawa satu kantong plastik warna hitam yang entah apa isinya dan tangan kirinya memegangi tas slempangnya. Ada rasa ego dalam dirinya, “oh, keliatannya masih muda pasti masih kuat-lah berdiri, jadi ga perlu aku kasih tempat dudukku ini…?!”. Fariz tetap duduk di tempatnya sambil membuka tas yang ada di pangkuannya sembari mengeluarkan novel yang baru di pinjam dari teman sekantornya. Dia membuka halaman terakhir bacaan kemarin malam dan mulai meneruskannya.

Kondektur mengeluarkan suaranya seolah akan memberi pengumuman yang penting, paling tidak untuk bisnisnya, “karcis…karcis…?!”. Wanita disampingnya mencari uang yang ada di sakunya dengan menaruh kantong plastik hitamnya dengan sedikit menunduk, saat itulah Fariz menoleh dan melihat wajahnya. “Busyet…?!Cantik banget…” Mata yang indah terbingkai dalam kacamata frame hitam yang kontras dengan kulit putih nan halus. Seketika itu ada yang aneh dalam hati Fariz. Sesekali ia melihat jari jemari wanita itu bertumpu pada bangku di depannya untuk mengamankan dari sang Sopir yang sering menginjak rem dengan mendadak.

Fariz tetap mencoba fokus dengan novel yang tengah dibacanya. Tidak berani dia menatap wajah wanita itu lagi. “Gila, aku ini sangat menghargai karya terbaik Tuhan yang disebut wanita, tapi kenapa dengan yang satu ini tak berani meski hanya untuk aku menatapnya saja,ahh..aneh…?!” Tak beberapa lama wanita itu mendapatkan tempat duduk ta jauh dari Fariz. Ia duduk di seberang tempat duduk Fariz. Saat itulah Fariz menyadari bahwa sosok wanita itu begitu anggun dengan balutan jilbab merah marun di padu dengan baju terusan berwarna putih dan rok panjang dan longgar yang sepadan dengan warna jilbabnya ditambah dengan tas slempang yang terkesan sporty.

Kepala Fariz mulai terasa pusing karena membaca di bus yang getarannya tidak beraturan, perutnya juga agak mual. Dia mengakhiri bacaannya dan mulai memasukkannya kembali ke dalam tasnya sembari menolah ke arah wanita berjilbab merah itu. Dia sangat terkejut. Wanita itu mengaji di dalam bus dengan Al-Quran mini dan seolah hanya dia dan AL-Qurannya saja yang ada di bus itu. Begitu khusyuk ia membacanya. Saat yang bersamaan pula Fariz merasa malu akan perbuatannya. Untuk menghabiskan waktu di bus selama perjalanan yang kira-kira cuma butuh satu jam, ia memilih membaca novel tapi wanita itu dengan waktu yang terbatas masih mengingat Al-Quran, mengingat Tuhannya.

Wanita itu sungguh menyita perhatian dan imajinasi Fariz. Ia sungguh mendambakan wanita yang sholehah untuk menjadi ibu dari anak-anaknya suatu saat nanti, menjadi pendamping hidupnya di saat duka maupun suka. Saat itu ia melihat sosok yang mencintai Tuhannya sedemikian besar dan alangkah beruntungnya seseorang yang di cintai karena kecintaan kepada Tuhannya. Fariz menarik nafas dalam-dalam dan memalingkan wajahnya ke arah jalanan. Pikiran itu terus bertaut-tautan menjadi kisah-kisah indah yang bergabung membentuk suatu mimpi. 

Ia ingat bahwa ada pesan dari seorang teman baiknya, “Jika ingin hasil yang baik, dekati dia dengan baik juga…”dalam hatinya Fariz ingin mengaplikasikan pesan temannya itu jika wanita itu turun di tempat yang sama dengannya. Ia ingin mengawali semuanya dengan baik, dengan adap sopan santun yang seharusnya di perlakukan pada seorang wanita yang baik pula. Fariz telah bertekad.

Tempat yang dituju semakin dekat, dan hati Fariz makin berdebar. Wanita itu mulai mengemasi barang-barangnya. Semakin berdebar. Wanita itu beranjak untuk pidah tempat duduk yang ada di depan karena bangku sudah banyak yang kosong karena satu persatu penumpang turun. Fariz mulai beranjak dari tempat duduknya, mencari pegangan agar tidak goyah. Ia menuju pintu belakang, berharap akan menunggu wanita itu bila turun dari pintu depan dan mulai berusaha untuk mengenalnya lebih dekat. Bus telah berhenti. Fariz turun perlahan melalui anak tangga. 

Saat kakinya menginjak aspal langsung ia menoleh ke samping, berharap wanita itu muncul di belakang penumpang lain yang turun dari pintu depan. Ia menunggu. Sampai orang terakhir Fariz tak melihatnya, sampai bus melaju lagi tetap ia tak melihatnya. Wanita itu turun di pemberhentian selanjutnya. Entah siapa namanya, entah dimana ia tinggal, wanita itu benar-benar telah datang dan pergi dalam waktu yang sangat singkat. Fariz hanya tersenyum kecil dan berkata, “ahh…mungkin belum rejekiku…?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: