Page III Aku menikmatinya dan Aku berdosa

“Halo…mbak mau nanya informasi nomer telfonnya bioskop 21 di malang donk…iya..ya…yang Matos 21 berapa mbak…ok…terus yang di Dieng…yak…yang terakhir Mandala…ok…yak..sip…

makasih ya mbak..?!tut…tut…

Layanan pencarian informasi yang disediakan telkom sangat berguna ketika tiba-tiba saja Fariz ingin menonton film dan ia ingin tahu film apa saja yang sekarang di putar di bioskop karena beberapa kali sempat tertunda untuk menontonnya. Lalu segera ia coba menghubungi Matos 21 dan Mandala 21, semuanya sedang memutar film lokal indonesia yang bukan menjadi tujuan utamanya. Nomer telepon Dieng 21 entah mengapa tidak bisa dihubungi. “ahh…gimana neh..kq ga bisa di hubungi…?!jadi keluar ga yah…?” Perasaan ragu menyelimuti benaknya. Tapi fariz tetap memutuskan untuk keluar sejenak.

Tepat pada pukul 11 siang, Fariz berkeliling kota sendiri hanya dengan motornya saja sekedar untuk melihat-lihat keramaian hari itu. Perjalanan itu membuatnya berpikir untuk melewati kawasan Dieng Plaza. Rasa penasaran menimbulkan keinginan untuk melihat film apa yang di putar di sana setelah telepon yang ia coba hubungi tadi pagi tidak bisa memenuhi keinginannya itu. Sekilas Fariz melihat cover film yang di inginkannya, dan ternyata benar film itu masih di putar di Dieng dengan dua studio sekaligus. Fariz merasa lega dan segera memarkir kendarannya.

Ekskalator, sebuah alat mirip tangga yang bisa berjalan sendiri yang mempermudah manusia tanpa mengeluarkan tenaga dan membakar kalori untuk melangkahkan kaki membawa Fariz sampai pada bioskop 21. Ramai antrian menyapa Fariz, orang-orang berbaris di depan loket dengan sekali waktu ngobrol dengan temannya di luar antrian. Fariz melihat sosok yang ia kenal, “lho..hai..mbak…sama siapa?mau nonton tah..?” dan ramah tamah-pun dimulai. “oh..hai…iya neh mau nonton tapi kayake yang untuk jam dua habis deh tiketnya…?!” ia mendesah kesal. “oh iya…wah harus cepet-cepet antri neh mbak…ok deh mbak…aq ta antri dulu yah…?!” Fariz segera mengakhiri pembicaraan dengan kakak tingkat di kampusnya itu karena khawatir kehabisan tiket dan rancana nonton jadi tertunda lagi untuk kesekian kalinya.

Tinggal menunggu satu orang lagi menuju bibir loket bertemu dan bertransaksi dengan seorang perempuan berbaju tertutup rapat yang rupawan, tersungging senyum di wajahnya yang membuat para pembeli tiket nyaman berada di sini. Fariz mengeluarkan handphone untuk menghubungi seseorang yang bisa menemani dia, satu orang yang ada di depannya telah mendapatkan tiket, sekarang giliran Fariz yang berhadapan langsung dengan perempuan itu. “eh..iya bentar ya mbak…?” Fariz memasukkan kembali handphone ke sakunya, dalam hatinya ia tidak ingin membagi kesenangannya ini dengan orang lain. “hah..yang untuk jam dua tinggal sit yang depan aja ya mbak…wah..skip aja mbak…?!next aja yah…?” Fariz mencoba menawar. “Adanya jam 17.15 ?” dengan lembut perempuan itu menawarkan. “ok yang itu aja mbak…buat satu orang di sit “C” yah..?! sambil mengambil dompet di bagian belakang saku jeans-nya. Ia membayar tiket itu dan menyimpan di dompetnya lalu mengembalikan kembali ke saku-nya.

Tidak beberapa lama Fariz teringat akan sesuatu. “lah..kalo maennya film-nya jam 17.15, sholat magrib-nya gmn yah…?ahh ntar aja di pikir…?!” Saat itu masih pukul 14.45, ada sekitar dua jam untuk berputar-putar lagi. Fariz sempat untuk sholat Ashar dulu di masjid yang ia lewati dan menemukan sebuah solusi aneh. Ia harus mempunyai wudhu waktu nonton nanti, dan ketika magrib tiba ia tinggal sholat saja di tempat ia duduk. “Ahh…brilian..!” Padahal sebenarnya ia tidak tahu pasti apakah di benarkan perbuatan itu sesuai syari’at. Beberapa saat jalan-jalan tidak tarasa sudah jam 16.30. Fariz kembali ke Dieng, dan tepat pukul 17.00 ia sudah ada di depan bioskop itu. Terlihat banyak sekali orang-orang yang lalu lalang menanti suara operator yang mempersilahkan masuk studio. Ada yang berpasangan, ada yang bersama teman, dan ada yang hanya sendirian seperti yang di alami oleh Fariz.

“Pintu theather satu telah di buka…” suara yang menandakan film akan segera di putar. Orang-orang sudah bergerombol di depan pintu masuk studio untuk di cek tiketnya oleh perempuan teman penjual tiket tadi. Fariz mampir ke sebuah toko yang menjual makanan dan minuman ringan yang ada di samping pintu studio itu. Ia membeli satu kaleng Pocari Sweat.

Fariz sudah nyaman di empat duduknya. Dan film-pun dimulai. Sejak awal setiap scene dan adegan membuat Fariz tercengang. Salut dengan visual efek yang ditampilkan. Sejenak ia melihat jam yang ada di tangan-nya. Pukul 18.00 tepat. Fariz ingat ia lupa untuk mengambil air wudhu yang pernah di rencanakan tadi. Berarti harus meninggalkan sejenak film ini paling tidak 15 menit untuk sholat magrib di ushola yang terletak di parkiran lantai dasar. Pikiran dan hati Fariz saling tanya jawab. “haruskah sekarang…?” ; “harus donk…sekarang uda jam enam…!” ; “paling tidak 15 menit…berapa adegan dan scene yang akan terlewatkan…?” ; “lho itu sudah kewajiban kan…?” ; “iya seh…tapi kan 15 menit berarti banget buat aku…!” ; “yang jelas kalau kamu tinggalkan bakal berdosa…?” ; “iya aku tau…tapi kan Allah Maha Pemaaf..!” ; “ya…terserah kamu…kamu sudah besar dan bisa menentukan pilihan sendiri…!”

Sejenak tidak memperdulikan kata hatinya, Fariz menoleh ke kanan dan ke kiri di studio yang gelap yang hanya di terangi cahaya dari screen besar yang ada di depannya. Ada dua studio yang memutar film yang sama dengan kondisi penuh oleh penonton dan di putar pada jam yang hampir bersamaan yang ada waktu sholat magrib di tengahnya. Tidak ada yang satupun yang turun dan menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim saat itu. Fariz yakin sebagian besar penonton yang hadir adalah muslim. “ahh..aku banyak temennya…jadi aku nikmati saja film ini sampai habis…?” Kata hatinya terkalahkan oleh besarnya nafsu dan pikiran kotornya. Sedikit dan berbisik, hatinya berkata, bahwa semua orang yang ada di sini akan menjadi teman nantinya di neraka dan di mintai pertanggungjawaban. Ada ketakutan dalam hatinya, tapi ia berusaha mengalahkan dengan kemahiran sutradara mamainkan setiap adegan yang tengah di tontonnya. Fariz sungguh menikmatinya.

Film mendekati akhir dan ternyata benar dugaan Fariz, film itu memang mempesona. Lampu menyala kembali dan suasana menjadi terang, terlihat jelas hiruk pikuk orang-orang yang mengemasi barang-barangnya dan mulai beranjak dari tempat duduknya untuk segera keluar dari studio. Fariz masih duduk di tempatnya, mengamati sekelilingnya dan menunggu agar tidak terlalu berdesak-desakan di jalan keluar. Pocari Sweat masih tinggal separuh di minumnya, jam menunjukkan pukul 19.45. Sudah tidak terlalu banyak kerumunan dan Fariz pun berdiri menuju jalan keluar dengan membawa minumannya. Ia meminumnya sambil jalan. Ia tidak menghiraukan orang-orang di sekelilingnya.

Ada cahaya yang terang di ujung pintu. Fariz telah ada di luar dan menjumpai banyak orang yang masih menunggu untuk pemutaran selanjutnya. Ia melewati beberapa kerumunan sambil meminum Pocari Sweat-nya. Turun. Di ekskalator, entah ada apa dalam hatinya, tapi mulutnya sedikit berbisik, “…Aku menikmatinya…dan aku telah berdosa…”
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: