Page V Menikmati sebuah proses

Tiga bulan berlalu sudah. Via sudah menjadi seorang istri sekarang. Suatu hal yang sangat di idamkannya. Mempunyai suami yang juga sholeh. Sungguh beruntung pria yang menjadi suaminya itu. Dia tampak cantik dengan balutan jilbab putihnya kala itu. Di sebuah masjid, mendung menyelimuti pagi. Acara sakral itu berlangsung khidmat, lancar dan penuh haru. Kenangan itu masih terlihat jelas di benak Fariz yang sedang duduk di halte menunggu bus Trans Jogja di daerah Janti. Tiba-tiba seorang perempuan penjaga halte membangunkan Fariz dari lamunannya

“…mas, ini bus-nya uda datang…?”

“..Oh iya…ini lewat Mangkubumi kan..?”

“..iya mas…ini jalur 1A ?!”

“..ok deh mbak, makasih ya…”

Hawa dingin dari AC bus menyapa seolah mengucapkan selamat datang pada Fariz di kota gudeg Yogyakarta. Tujuannya ke Jogja hanya untuk bertemu dengan seorang kawan lama semasa SD dulu. Fariz duduk di kursi paling pojok kanan belakang. Di sekeliling tampak banyak mahasiswa yang akan berangkat kuliah dan para pekerja yang mulai beraktivitas di sabtu pagi itu. “…Kota ini sungguh menyenangkan…” Fariz mengucapkannya tanpa melepaskan pandangannya dari balik kaca bus yang membawanya menikmati hiruk pikuk kota.

Bus itu bergerak ke utara melewati Jl. Solo di teruskan ke Jl. Jend. Sudirman. Beberapa kali singgah di halte untuk menurunkan dan menaikkan penumpang. Ia teringat belum menghubungi kawan lamanya itu bahwa telah sampai di Jogja. Fariz merogoh saku jeans-nya. Di ambilnya ponsel merah itu lalu ia mencari nomer di phonebook. Tak lama ia sudah tersambung dengan kawannya. Fariz mendahului mengucapkan salam.

“Assalamualaikum kawan…?!”

“Waalaikumsalam Fariz, apa kabar neh…?” Tanya Si Kawan.

“Alhamdulillah baik, kamu gimana…?” Tanya Fariz membalas.

“Alhamdulillah sehat, ada apa ini?kapan kau maen ke Jogja riz…?”

“hahaha…ini aku sudah di Jogja kawan…!ne masih di bus lagi jalan di daerah sudirman…?!”

“hah…!!wah parah awakmu iki…bener ta iki?

“iya..aku juga uda reserve di Hotel Bhineka kawan…”

“lho..kenapa ndak nginep di rumahku aja tho…?”

“Ahh..ngga apa-apa…cuma ga enak ngerepotin..eh ntar malem bisa ngobrol-ngobrol yah..ada yang pingin aku obrolin..” kata Fariz dengan nada yang berubah datar.

“haha..masalah perempuan yah…?kamu aja tho riz ga jauh-jauh dari hal itu….hehehe…oke deh ntar jam sembilan malem yah di Malioboro warung gudeg langganan kita dulu, agak malem aja yah biar anak-ku tidur dulu…”

“halah apaan seh…?!oke deh, aku ta jalan-jalan dulu aja…sampai ketemu kawan…Assalamualaikum..!”

“Yup…Waalaikumsalam…”

Sambungan telefon terputus. Memasukkan kembali ponsel ke saku sambil memandang jalanan lagi. Terlihat Monumen Tugu Jogja yang kokoh menjulang mengingatkan Fariz saat berfoto-foto bersama Via setahun yang lalu. Bus berbelok ke kiri menuju Jl. Mangkubumi. Di malam hari, Tugu itu di penuhi gemerlap lampu warna warni yang sangat indah sayang untuk di lewatkan. Duduk berdua di ujung Jl. Mangkubumi, menikmati indahnya Tugu, penuh tawa, saling bercerita. Fariz tersenyum tipis. Bus memasuki kawasan Malioboro. Ingin ia menyanggah sebuah kenyataan bahwa bagi Via, ia bukanlah siapa-siapa lagi.

Dengan agak cepat ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Membangunkan dirinya sendiri dari lamunannya. Saat pikirannya sudah kembali normal, ia bangkit dari duduknya, melihat kalau di sekitarnya adalah kawasan Malioboro. Ia melewatkan Jl. Mangkubumi, tempat Hotel dimana ia sudah reserve. “halah…kenapa aku ini…!” Keluhnya. Fariz turun di halte Malioboro. Sekalian cuci mata pikirnya. Kendaraan sudah mulai ramai, para penjual kaki lima menyajikan sajian khas berselera. Fariz menaruh tas-nya. Memesan nasi pecel beserta teh panas. Ia duduk di pinggiran Jl. Malioboro.

Matahari sudah mulai menampakkan bentuk aslinya. Panas. Fariz mengambil sebuah topi dari tas-nya. Memakainya. Berjalan ke utara. Menuju Hotel sambil menyegarkan pikiran. Ia sempat membeli beberapa pakaian seperlunya selama di Jogja juga makanan kecil karena di tasnya cuma ada file-file pekerjaan tanpa ada pakaian sama sekali.

Sekitar pukul satu siang setelah sempat makan siang, Fariz sudah sampai di Hotel Bhineka. Check in. Kunci kamar di genggamnya dan segera menuju kamar. Satu tempat tidur, televisi, AC, shower telah tersedia. Fariz bergegas untuk mandi, sholat lalu istirahat.

Kawasan Malioboro masih menunjukkan keramaiannya. Jam tangan Fariz menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Dia sudah duduk lesehan di pinggiran Malioboro, di sebuah warung gudeg.

Tak berapa lama dari kegelapan muncullah sosok seseorang yang sudah lama di kenalnya. Memakai kemeja bermotif kotak dengan balutan jaket hitam dan celana panjang hitam, sosok itu makin mendekatinya dan makin jelas wajahnya.

“Assalamualaikum…!” sapanya dengan senyumnya yang khas.

Fariz segera membalasnya dengan memeluk kawan lamanya itu. Seolah terluapkan sudah rindu selama ini. Banyak yang ingin di sampaikan. Padahal terakhir ketemu setahun yang lalu.

“Wah..Paijo…lama aku ingin bertemu denganmu jo…” ucap Fariz di sambut tawa oleh keduanya.

Nasi Gudeg lengkap dengan lauknya tak ketinggalan teh panas dan krupuk telah di pesan. Dan tak sampai menunggu lama, hidangan telah ada di depan mereka.

“Ayo riz…kita makan dulu aja baru itu ngobrol…ok..?!” ungkap Paijo yang merelakan tidak makan masakan istrinya hanya karena ingin makan malam bersama Fariz malam itu.

“Ok…monggo jo…?!” sambut Fariz dengan langsung menyantap hidangan lezat malam itu.

Kenikmatan Gudeg masih terasa meski sudah tak bersisa lagi. Giliran teh hangat menyambut dan Paijo-pun memulai pembicaraan.

“Aku koq ngerasa hal ini berkaitan dengan Via yah…Riz…?”

Fariz meneguk teh-nya perlahan. “Iya..jo…ini tentang Via…?.” Suaranya mulai berubah dan pandangannya mulai menerawang. “kamu udah trima kabar kalo Via udah menikah kan…?” tanya Fariz.

“Yup, aku tau pas liat Facebook…? Trus…sekarang ada apa denganmu Riz?” dengan raut serius Paijo melontarkan pertanyaan kepada Fariz.

“Hah..? aku ga tau jo…beberapa bulan setelah aku dari jogja setahun yang lalu…aku pisah dengannya…ada yang hilang memang..tapi aku masih bisa mengisinya dengan kerjaan, nambah teman dan lain sebagainya…tapi pas dia sudah menikah…hati ini sakit jo…sakit banget…” Fariz menatap lekat mata kawannya itu. “Aku selalu merindukannya tiga bulan ini Jo…Aku mengharapkan senyumannya Jo…?!”

Paijo tersenyum simpul. “Kau telah melewatkan banyak hal, kawan…?! Apa yang kamu rasakan saat ini adalah murni perasaanmu. Saat kau memutuskan pisah dengan Via, kau mengesampingkan perasaanmu kan? kau lebih berkutat dengan logikamu yang terstruktur dengan baik, padahal kau sebenarnya tau rasa sayang itu ga bisa pake logika kawan…!”

Tubuh Fariz tiba-tiba dingin, tersentak dengan kalimat Paijo yang seolah menelanjanginya. Sesuatu yang berusaha di tutupi Fariz dan selalu di cari pembenarannya kini terkuak dengan beberapa kata saja.

Paijo meneruskan kata-katanya. “Trus apa yang bakal kamu lakuin sekarang…? ga ada Riz…! Apa kamu akan bilang sama Via kalau kamu menyesal dan ingin kembali padanya…? Kau bukan pria klo gitu caranya…?! Saranku, hal yang paling bijak yang bisa kamu lakuin saat ini adalah…lanjutkan hidupmu kawan…perbanyak ibadahmu….ga bakal ada yang tau apa yang terjadi nanti denganmu…tapi yang aku tau, Allah pasti tau yang paling baik untukmu…untuk Via juga….! Hadapi semua ini dengan gagah kawan…kembali fokus sama tujuan awalmu…!”

Fariz terdiam, kawannya itu adalah sosok yang tenang, berkarakter dan tahu apa yang perlu dilakukan dan yang tidak. Dan sekarang kata-kata Paijo menancapkan semangat baru di hati Fariz dan keikhlasan untuk menerima kesalahan dan takdir dari Allah.

“Aku tau kalo kamu benar-benar menyayanginya, aku tau saat kau memperlakukan Via setahun lalu, di sini…di tempat yang sama saat ini, but too much love will kill you bro…!” Tanpa henti Paijo berbicara dan kali ini kalimat yang di sadur dari judul lagu Queen membuat tertawa mereka berdua.

Tiga kata meluncur dari bibir Fariz, “Terima kasih, kawan…!”

“yang penting tetaplah di jaga silahturahim-mu dengan Via…jangan ada dendam…semua ini hanya proses hidup…nikmatin aja…saling mendoakan yang baik-baik” Paijo menambahkan dan di ikuti Fariz yang menganggukkan kepalanya tanda setuju.

Tidak terasa malam telah larut, tapi suasana Malioboro saat itu masih tetap menyanangkan. Senyum mengembang di wajah kedua sahabat itu. “Besok aku ta mengunjungi anak dan istrimu kawan…?” ucap Fariz dan di sambut riang oleh Paijo, “emang seharusnya kayak gitu…ta tunggu ya besok…sekarang kamu istirahat aja…dan aku ta pulang…uda malem kawan…?”

Saling menjabat tangan mengakhiri pertemuan kala itu. Sebelum berpisah Paijo menyempatkan berkata, “sakit yang pernah ada di hatimu akan membuatmu belajar akan sesuatu, kawan…belajar bersyukur…”

Diantara pedagang kaki lima dan semilir angin malam itu, Fariz berjalan menuju hotel. Tersenyum dan mensyukuri tiap hal yang di takdirkan Allah padanya. “Hidupku akan terus berlanjut…proses hidup akan terus berjalan…dan aku yakin Allah tahu yang paling baik untuk semua…”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: