Memulai Kembali

Akhirnya aku menulis lagi di blog ini setelah beberapa bulan vakum karena beberapa kesibukan yang aku jalani, kuliah dan kerja ternyata tidak segampang yang aku bayangkan. Ditambah pula dengan keinginan yang belum ada untuk menulis lagi seperti dulu. Tersentak pikiranku, mengalir deras darahku ke otak mingirim sinyal untuk menulis lagi ketika suatu malam ada seorang teman mengajakku untuk ngobrol di sebuah cafe burger pinggiran jalan Soekarno-Hatta.

Obrolan tentang berbagai hal meluncur bertubi-tubi tanpa terbendung seolah kami sudah tidak bertemu puluhan tahun. Seorang kawan memang punya arti sendiri dalam hidup. Mengisi bagian yang kosong dalam hati. Kurasakan Hangatnya. Ia bercerita tentang pekerjaannya sampai ke keluarganya dan aku hanya bisa menjadi pendengar yang baik dengan sesekali memberi saran sebatas pengetahuanku. Tak terasa sudah hampir dini hari dan cafe itu akan bersiap-siap untuk tutup. Karena kebetulan malam itu ada pertandingan piala dunia perebutan juara ketiga, maka kami sepakat untuk ikut meramaikannya dengan nonton bareng di cafe sekitar pasar Blimbing.

Suasana yang cukup sepi saat kami sampai di cafe nonton bareng itu. Posisi duduk kami sudah cukup pas dengan sudut pandang hampir lurus dengan sebuah layar besar yang di gunakan untuk siaran langsung. Obrolanpun kami lanjutkan, dan di saat itulah aku menerima pertanyaan yang mengejutkan, “Apa prestasi terbesarmu selama ini ?” kira-kira seperti itulah pertanyaannya. Dengan jujur aku menjawab sekenanya, tapi itu benar bahwa aku pernah bangga ketika SMP menjadi ketua sekbid VIII tentang kesenian dengan mempunyai anggota yang bukan dari anak-anak terkenal atau cantik apalagi tampan, tapi kami bisa menuntaskan program kerja sampai masa akhir jabatan dengan 100%. Ahh… aku benar-benar bangga. Tapi kawanku ini sungguh mengejutkanku lagi bahwa dia merasa tidak punya prestasi yang bisa di banggakan.

Aku tidak sepenuhnya percaya, aku korek sedikit demi sedikit dan akhirnya aku tahu kalau dia pernah berprestasi di bidang tulis menulis. “kenapa tidak kau mulai lagi menulis kawan ?!” tanyaku. “Aku tidak tahu harus memulai dari mana…” ungkapnya. Dan aku hanya mengatakan padanya, “Mulailah dari dirimu sendiri…” Iya… aku jadi ingat, awal aku menulis adalah tentang perasaanku yang aku tumpahkan pada secarik kertas dan saat aku baca hasil curahan hatiku itu tadi, aku seolah tidak percaya kalau aku yang menulis ini. Hal-hal kecil di sekitar kita sampai hal-hal penting yang kita olah dalam otak kita bisa jadi tulisan yang berharga paling tidak bagi diri kita sendiri, untung juga kalau bisa bermanfaat buat orang lain.Aku menyarankan pada kawanku ini untuk mencobanya. Menulis. Dan ketika itu juga aku merasa merindukan saat-saat menulis lagi. Kick off piala dunia di mulai. Ternyata cafe yang mulanya sepi mendadak ramai dengan sorak sorai teriakan-teriakannya. Kami-pun terbawa suasana ini. Sekitar pukul 03.30 pagi kami berpisah.

Hingga beberapa minggu kemudian aku menerima sms untuk menyuruhku memeriksa e-mail. Ternyata kawanku ini mengirimiku karya tulisannya. Dan ketika kami bertemu lagi yang cuma sesaat aku menyarankan untuk membuat blog. Tanpa aku duga beberapa hari kemudian sms dia tentang alamat blog baru-nya telah bersarang di inbox telepon genggamku. Aku senang. Menulis adalah hal yang menyenangkan, benar kata kawanku ini “serasa tak mau berhenti…” dan inilah tulisan pertamaku di blog ini, di tahun 2010 ini. Saatnya untuk memulai kembali.


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: