Cinta Untuk Bintang

Seekor lalat terbang berputar-putar lalu menukik tajam dan akhirnya hinggap lah ke bibir sebuah cangkir mungil ber motif bunga-bunga yang berisi kopi tinggal setengah, tampak bahwa ada yang sudah meminumnya satu hingga dua teguk. Cangkir itu berdiri manis di atas sebuah meja yang ter sudut dalam ruangan sejuk, sinar matahari dapat masuk di sela-sela jendela yang sedikit terbuka memberi tempat untuk menyapa udara pagi itu.

Aku membuka pintu meletakkan kunci di atas meja lalu duduk dekat cangkir kopi-ku. Tanganku mulai meraih cangkir kopi dan meneguk isinya hingga tersisa ampas nya saja. “Ah, sudah dingin” keluh ku. Aku melangkah dan membuka lebar jendela yang ada di ruangan itu. Menghirup sedalam-dalamnya udara sejuk hingga terasa tenang batinku.

Tiba-tiba aku ingat akan sesuatu yang ada di kantong kiri jeans-ku. Ada secarik kertas kumal bertuliskan “Just wanna share with you”

Raut muka yang biasa saja ketika aku membuang kertas kumal itu ke tempat sampah yang tak jauh dari tempatku berdiri. Aku merasa semua sudah berakhir dan tidak ada yang perlu di perbaiki lagi. Ada beberapa hal yang bisa di buat sebuah kenangan indah tak terlupakan, salah satunya dengan mencengkeram sekuat-kuatnya hingga akan selalu terpatri di memori kita, tapi tidak untuk yang satu ini. Aku akan melepaskannya.

Hari ini adalah hari minggu, suasana menyenangkan ketika aku lihat di mana-mana banyak orang tersenyum dan tertawa bahagia bersama orang terkasih. Seorang wanita bersama suami dan kedua anaknya, seorang pria dengan anjingnya hingga yang paling sering aku jumpai sekaligus paling aku benci, pasangan yang sedang di rundung asmara. Aku berjalan di St. James’s Park kala itu. Menikmati kesendirian. Menertawakan kepedihan. Di perantauan ini banyak hal yang terjadi, keterpurukanku secara tidak langsung sekaligus menjadi keberhasilanku dalam melalui proses hidup ini.

Tepat setahun lalu, aku lihat perempuan itu di tempat yang sama dengan saat ini aku duduk di kursi kayu yang sengaja di sediakan untuk pengunjung di taman ini. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk diriku tahu tentang namanya sampai nomer teleponnya. Aku memang hebat dalam hal ini. Awal itu hanyalah sebuah ke tidak sengaja an yang pada akhirnya membawa ku mempelajari hal paling hebat di dunia ini.

Cinta.

Waktu terus meluncur dengan kecepatan maksimal. Ternyata aku tidak sehebat yang aku kira. Selama setahun itu aku tidak bisa tahu untuk apa takdir ini mempertemukanku dengan dia. Hingga kemarin, aku tahu semua tidak berjalan sesuai yang aku bayangkan. Dia bukan perempuan biasa dengan segala keunikannya. Dia adalah perempuan yang di kenal oleh sebagian besar penduduk negara Swiss. Dia adalah model papan atas di negara itu.

Bayangan kesederhanaan ku padanya yang telah aku bangun selama ini hilang sudah. Di basuh oleh kerlap kerlip lampu sorot berwarna-warni di atas panggung yang biasa di sebut CatWalk. Pancaran sinar Blitz dari ratusan kamera sang jurnalis dari berbagai media. Kepasrahan untuk memakai segala bentuk jenis pakaian yang di buat oleh para desainer dengan cara aneh untuk di bisa terima dengan akal sehat. Hingga para wartawan yang menelanjangi tiap detil rahasia hidup yang kebanyakan tidak sedikitpun patut untuk di beritakan.

Aku tidak mampu menerima itu.

Selama aku mengenalnya, dia hanya menjelma sebagai perempuan mahasiswa yang sederhana yang biasa aku temui di jalanan kota London ini. Dia hanya bercerita tentang kisah masa kecilnya, kebahagiaan nya ketika aku mengajak nya naik komedi putar, atau pun tentang kesedihan nya karena aku larang untuk kesekian kalinya makan es krim. Aku hanya menyukai itu, tapi tidak untuk kebohongan ini.

Aku marah saat itu. Aku katakan itu padanya. Dia menatap ku sejenak. Mengambil remote control dan menekan tombol “pause“, maka hanya sekejap berhentilah tayangan video rekaman fashion show di televisi itu. Di situlah aku melihat dia sedang ber lenggok dengan anggun nya. Aku tidak bohong, benar-benar anggun. Aku juga membaca sekilas majalah yang di sampul nya terpampang jelas wajah dan tubuh polos nya.

Ia berdiri dari sofa nyaman nya. “Aku hanya ingin tampak apa adanya di depanmu..” lirih nya.

Aku menjatuhkan majalah itu. Aku menatap matanya. Seolah ingin tahu apakah yang di bilang saat ini adalah kejujuran. “Kenapa tidak kau bilang dari awal…?” tanyaku.

Dia hanya menatap ku dan tidak berkata apa-apa. Tangannya mengambil kertas kecil di meja kecil samping sofa. Ia menuliskan sesuatu. Menghampiri ku dan memasukkan nya ke saku kiri jeans-ku, menggiring ku sampai di luar pintu kamar apartemen nya lalu mengecup kening ku. Aku benar-benar tidak tahu maksudnya. Sejenak menatap mataku, sedikit tersenyum lalu menutup pintu.

Itulah senyum terakhirnya untukku.

Pagi ini sungguh menyejukkan. Aku kehilangan orang yang aku sayangi tadi malam. Aku mengerti ternyata sebintang-bintangnya seseorang tetaplah manusia. Aku merasa pilu sesaat. Dunia ku adalah dunia ku. Aku belum siap untuk bisa menerima ini. Kubiarkan momen ini sementara, biarlah angin sejuk pagi ini menyapu perih ku dan kuharap perih nya juga. Meskipun aku tahu ada penyesalan di lubuk hatiku ter dalam.

Cintaku adalah cinta untuk bintang.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: