Kerinduan Hati

“kita semua pernah melakukan kesalahan, yg kita butuhkan hanyalah kesempatan untuk memperbaikinya”
Saya bukanlah orang yang baik dalam segala hal, adakalanya saya menjelma menjadi makhluk paling menyebalkan dari yang pernah ada.  Saya tertutup, merasa bisa melakukan segala hal tanpa bantuan orang lain dengan pembenaran tidak mau merepotkan orang lain.  Pikiran dan hati saya masih kotor dan sering di penuhi oleh hal-hal tentang nafsu atau apapun yang termasuk di dalamnya.  Wajah saya seringkali mencerminkan kemarahan daripada kesabaran dan keteduhan orang yang melihatnya. Keputusan yang saya buat pun seringkali hanya melihat dari sudut pandang saya sendiri tanpa peduli dengan kepentingan orang lain, banyak yang sakit hati.  Saya sadar akan hal itu, tapi mungkin terlambat.
Merasakan sekali bahwa saya melakukan kesalahan adalah ketika saya di kelas 3 sma. Dalam berbagai hal saya merasa di kucilkan yang akhirnya saya tahu kalau itu adalah ulah saya sendiri.  Hingga tiba saat saya berpikir tentang masa yang akan datang, paling tidak 5 tahun mendatang.  Saat itu saya mulai menata kehidupan saya meskipun saya yang sekarang-pun masih jauh dari sempurna tapi kala itu akhirnya saya mulai merasakan kasih sayang kedua orang tua saya. Waktu demi waktu mengantarkan saya untuk bekerja lebih dahulu daripada teman-teman sebaya saya.  Hal itulah yang saya rasa momen paling hebat dalam hidup saya.
Saat saya pulang bekerja setiap jumat malam, bapak menyambut saya dengan busana khas-nya yaitu pakaian koko lengkap dengan sarung yang bagi saya adalah sosok yang paling gagah yang pernah saya temui, hingga saat ini.  Harumnya juga khas, dan terasa sangat merindukannya ketika saya sadar saat menulis ini beliau telah tiada.  Jenazah beliau yang seolah hanya tertidur sejenak kadang menghiasi benak ini.
Dan yang paling menyenangkan adalah duduk berdua menerawang ke pematang sawah sambil meminum seseruput kopi panas.  Bercerita banyak tentang agama, tentang hidup, tentang mimpi-mimpi saya, dan beliau tetap menatap sawah dengan mengangguk-angguk seolah mengamini cerita saya itu.  Hanya beberapa tahun saja saya merasakan indahnya kasih sayang itu dan hanya beberapa tahun saja saya melihat bapak seolah bahagia sekali dengan rumah barunya yang dekat dengan sawah tapi tidak jauh dengan keramaian, dekat dengan masjid sekaligus dengan pemakaman. Kebahagiaan itu yang membuat bapak akan selalu ada di hati saya.
Saya pernah membuat beliau marah, saya juga pernah membuat beliau kecewa, tapi yang selalu saya doakan adalah semoga saya juga telah membuat beliau bangga akan prestasi saya dan mimpi-mimpi saya.
Membaca sekali lagi kalimat pertama di cerita ini, membuat saya sadar bahwa kesempatan itu akan selalu ada bila kita berusaha mencarinya hanya tinggal kita yang berkuasa untuk memilih, ambil atau lewatkan.  Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung memanfaatkan kesempatan itu.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: