Syukur & Harapan

Awal obrolan dimulai ketika saya akhirnya dapat duit yg cukup untuk biaya pulang ke malang kali ini, teman saya bilang, “masih tanggal berapa sekarang ini kok sudah nipis dompetmu ?” saya hanya tersenyum karena mereka tidak tau tentang kebiasaan saya yang tidak terlalu suka menyimpan duit cash di dompet.

Lalu berkembanglah obrolan tadi hingga membolak-balik waktu ke masa lampau. Giliran saya yang tiba-tiba ingat kejadian masa smp. Saya sekolah di sebuah smp favorit kala itu di kota malang, saya bisa sekolah di situ yakin bukan karena suatu kebetulan, ada tangan Tuhan di sana yang mengharuskan saya bertemu dengan suasana belajar di sekolah favorit.

Yup, benar. Sekolah itu di penuhi dengan banyak sekali orang pintar, dari kelas ekonomi bawah sampai anak meyjen ada di situ jadi satu berbaur bersama, pokoknya serba plural. Dan saya termasuk anak yang biasa saja. Pandai tidak, kaya juga tidak tapi saya suka organisasi, mungkin itu yg membuat saya lumayan terkenal saat smp.

saya termasuk anak yang di beri uang saku oleh orang tua tersayang dengan sistem harian, berbeda dengan teman kebanyakan di sekolah yang di beri uang saku mingguan bahkan ada yang bulanan persis seperti orang kerja kantoran, biasanya kalau yang begitu itu anak yang jarang sekali bertemu dengan orang tua karena sibuk-nya bekerja atau entahlah, banyak faktor yang mempengaruhi. Kalau melihat itu sepertinya saya merasa sedikit beruntung karena saya selalu melihat kedua orang tua saya di rumah ketika pulang dari sekolah.

Kembali ke uang saku harian saya tadi, ternyata masih ada yang kurang informasinya yaitu jumlah nominal uang saku saya tidak menentu, entah tergantung apa dulu itu yang jelas minimal cukup untuk buat bayar angkot pergi-pulang sekolah.

mungkin itu yang membuat saya tidak terlalu menyukai jajan di luar, bukan maksudnya pelit tapi lebih menghargai uang. tidak jarang karena saya malas ke kantin sampai sering di traktir teman-teman saya ke kantin, menurut saya banyak yg bisa di lakukan di kelas atau lapangan dari pada ke kantin, biasa anak muda yg baru tumbuh jerawat di mukanya, menggoda perempuan. : )

Karena saya juga aktif dalam osis dan sering pulang sore meskipun aslinya pulang sekolah itu siang, maka saya bisa sangat akrab dengan penjaga perpustakan, tempat saya ngobrol tapi bilangnya rapat osis, atau dengan penjaga sekolah yg juga jualan gorengan dekat perpustakaan, dan seperti biasa saya hanya ikut senang dengan melihat teman-teman makan gorengan itu.

Pernah, lagi-lagi karena uang saku. Pulang sore usai rapat osis dan kegiatan lain di luar pelajaran, sudah sepi, teman-teman sudah pada di jemput orang tua mereka atau pulang ke arah yg berlawanan, saya rogoh saku dan sadar tidak ada uang sepeserpun di sana. Tepat habis sholat ashar saya pulang dari sekolah sampai rumah dengan berjalan kaki.

Kalau untuk ukuran berjalan kaki, jarak itu cukup jauh, tapi ada satu yg aneh seingat saya kala itu, saya menikmatinya. Saya lihat dengan jelas kesibukan orang-orang di sore itu, saya melihat angkot-angkot yg sibuk cari penumpang dgn nge-tem yg menguji kesabaran, saya lihat pada warung-warung tepi jalan atau lebih tepatnya trotoar karena memakai lahan trotoar untuk mendirikan warung-nya sedang bersiap-siap untuk berjualan, saya lihat para muda-mudi sekolah sebelah yg pada jaman itu sudah punya motor sedang berboncengan dgn mesranya, saya juga lihat riuh-nya orang-orang yg berdagang di sepanjang perjalanan saya, sungguh menyenangkan. Momen itu hampir terlupakan dari ingatan.

Dan kemarin, ketika saya jalan-jalan bersama pacar saya, momen menyenangkan itu seolah terulang kembali. Motor saya parkir di luaran Gajahmada Plaza, berdua kami berjalan dari satu toko ke toko lain sambil mencari apa yang kami butuhkan, kadang malah kami coba masuk dgn niat hanya bertanya-tanya saja, tiba-tiba saya merasakan perasaan yang sama dengan saat smp. Bedanya mungkin pas smp saya masih memakai seragam putih biru bercelana sangat pendek dengan tubuh yg lebih dari standar dan yang kadang membuat saya tertawa kecil adalah tidak ada duit di kantong.

Ada yang menarik di sini, saya lebih memahami keanekaragaman orang-orang itu dengan berjalan kaki, istilahnya lebih tahu banyak. Saya pernah baca sekilas tentang pendiri salah satu pabrik otomotif besar di dunia, “Toyota” yg tiap hari berjalan kaki mengelilingi pabriknya, berusaha menemukan cara baru yg lebih efisien dan efektif. Saya juga merasa menemukan sesuatu yg baru ketika saya jalan-jalan, menemukan harapan dan rasa syukur, yaitu ketika saya lihat orang-orang kaya sedang berbelanja maka ada harapan di sana bahwa saya harus bisa kaya dan bermanfaat buat banyak orang, saat saya lihat anak-anak jalanan ataupun pengemis dan sebagainya maka timbul rasa syukur saya pada Allah SWT bahwa saya masih termasuk orang yang beruntung. Ya, saya suka ini, saya bisa belajar tentang harapan dan rasa syukur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: