Tanpa Futsal

Awal bulan ini, saya memutuskan untuk mengudurkan diri dari tim futsal yang selama saya lakukan tiap minggu bersama beberapa teman-teman kantor, mess dan kenalan lain di luar kantor. Saya mengirim email kepada mereka dengan tidak mengatakan alasan secara lugas. Yang jelas saya mengucapkan terima kasih atas hal yang menyenangkan selama ini bersama mereka.

Beberapa teman bertanya-tanya ada apa dengan keputusan saya yang mendadak ini, sebagian menyimpulkan sendiri apa yang terjadi. Saya punya alasan di balik semua ini. Alasan yang bagi saya cukup dominan yang mengharuskan saya mundur dari futsal.

Pertama adalah suasananya, saya ingat ketika pertama kali dapat usulan dari Dheka (teman sekamar saya). Bahwa ingin mengadakan futsal antar teman di kantor. Setelah ngobrol-ngobrol akhirnya jadilah tim futsal itu. Dengan membayar iuran per orang Rp 50.000
Saat pertandingan perdana, kami benar-benar kelelahan. Hanya 15 menit sangat menguras tenaga kami. Tapi kami senang, benar-benar terpancar dari wajah kami. Kami menjelma manjadi anak-anak yang baru tahu rasanya bermain bola di sebuah lapangan bagus. Suasana itu yang tidak dapat saya temui lagi di beberapa bulan terakhir. Entah karena saya sendiri yang menciptakan suasana itu atau benar-benar suasananya sudah berubah. Tidak senyaman dan semenyenangkan dahulu. Ketika masing-masing individu tidak tahu posisinya, semua menyerang lalu mundur bertahan setelah itu kelelahan. Itu menyenangkan untuk saya karena tidak ada aturan, tidak ada yang mengatur, benar-benar lepas, benar-benar untuk refreshing dan benar-benar seperti anak-anak. Tapi sekarang lain, semua di atur, posisi di atur dan sampai siapa lawan siapa pun di atur. Hati saya berontak dan sudah saya utarakan ini beberapa bulan yang lalu kalau saya sudah mulai bosan dengan futsal ini. kita ini kan tidak perlu jadi pemain profesional, kita juga tidak ikut kejuaraan, kita Cuma ingin bersenang-senang sambil olahraga supaya sehat, hanya itu intinya. Itulah yang ada di hati saya.

Kedua, beberapa akhir ini saya sering pulang ke Malang. Kadang ada yg memerlukan kehadiran saya yaitu keluarga. Tidak tentu saya pulang, kadang juga pas ketepatan dengan jadwal futsal. Saya memilih pulang. Praktis dalam 4 kali futsal dalam satu bulan kadang saya Cuma ikut 2 kali kadang juga hanya 1 kali.

Dan ketiga, dengan jadwal saya yg tidak menentu seperti itu saya pikir lagi ya rugi juga saya tiap bulan bayar Rp 50.000 dengan saya yg jarang hadir. Lebih baik saya ikut fitnes dengan uang itu bisa setiap hari saya olahraga atau saya investasikan saja ke bisnis online dan saya cukup olahraga lari pagi tiap hari.

Email sudah terkirim, dan sekarang, terakhir saya menulis artikel ini, saya sudah tidak ikut futsal untuk ketiga kalinya. Waktunya saya melirik olahraga lain dgn memanfaatkan bugget yg sudah tersedia ini. Saya senang teman-teman tidak banyak bertanya lagi. Tiap orang punya prinsip yg tidak semua bisa mengerti dan memahami, tapi bagi orang tersebut prinsip itu tidak dapat di ganggu gugat.

Advertisements

One thought on “Tanpa Futsal

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: