Sedikit kisah

Ada seorang anak kecil hitam manis duduk si sebelah saya. Bersila. Pipinya tembem. Bersarung dan berbaju koko. Berkali-kali di bukanya makanan kecil yang ada di kotak kertas. Menunggu dengan cemas adzan magrib berkumandang. Saya sesekali memperhatikan tingkah polah anak itu sembari tersenyum kecil terlukis di wajah saya.

Sambutan, serah terima hingga doa telah tersampaikan dengan runtut, memaknai guratan indah di wajah anak-anak ini. Membayangkan betapa indahnya memberi dengan hati.

Adzan berkumandang.

Kami langsung berdoa dan menyantap sedikit kolak sekedar untuk membatalkan puasa yang telah seharian ini di lakukan. Mata saya tergelitik untuk melirik lagi anak kecil di samping saya tadi. Ia langsung membuka dan mengambil kue brownies, sekejap saja tinggal separuh. Saya sedikit menyela, “lho.. ga berdoa dulu…?” dan ia pun hanya terdiam. Malu. Saya tersenyum saja melihat itu semua.

Sedikit kisah ini, ketika saya berkesempatan menjadi panitia dalam kegiatan bakti sosial di tempat saya bekerja, kepada salah satu panti asuhan yang ada di daerah Rembang, Pasuruan.

Waktu itu saya melihat senyum, tapi saya juga melihat gurat kesedihan di beberapa orang disitu. Saya sempat berfikir, kenapa sampai tersimpan mimik sedih di wajah mereka ? Satu hal yang paling masuk di logika saya adalah kegiatan seperti ini mungkin hanya sekali dalam setahun tepatnya ketika bulan Ramadhan di laksanakan. Dimana banyak sekali makanan, minuman dengan berbagai rasa, buah-buahan, pakaian layak pakai hingga uang yang jutaan jumlahnya. Hanya di bulan ini. Bulan Ramadhan. Bagaimana dengan bulan-bulan berikutnya ? Mereka akan kembali ke keadaan semula. Serba terbatas. Bukankah ada sebagian hak mereka pada diri kita ? Dan ketika bulan-bulan berikutnya, mereka kekurangan, bukankah kita benar-benar merampas hak mereka ?

Mengingat kembali, ketika saya makan bersama anak-anak panti asuhan ini. Anak kecil yang sama, yang ada di sebelah saya tadi benar-benar bersemangat, semua di lahapnya, ia juga tegas ketika menjawab saat saya bertanya macam-macam tentang dirinya dan teman-temannya. Dalam hati, “Anak ini punya potensi…”

Saya dan banyak orang di sekitar punya amanah. Amanah untuk memelihara anak-anak yatim ini. Itulah potensi kita. Keberuntungan kita. Kelebihan untuk bisa memberi dari hati dan bermanfaat untuk orang lain. Ketika kita benar-benar menolong, ketika kita menyampaikan amanah yang menjadi hak mereka, itulah yang dari hati.

Saya berandai, bila satu orang dari kita mengembangkan potensi satu saja anak yatim yang ada di panti asuhan ini. Satu anak saja. Dengan membiayai, mengajarkan ilmu yang kita punya. Bukankah kita sebaik-baik manusia ? yaitu bermanfaat buat orang lain. Dan ketika hal baik ini di teruskan oleh anak itu tadi dengan mengembangkan teman-temannya yang lain, betapa kebaikan ini telah menjalar menjadi satu kesatuan yang tak ternilai harganya. Itu bila satu orang dari kita. Bayangkan bila kita semua berbuat hal yang sama ? Sangat indah.

Selesai dari panti asuhan, dalam perjalanan pulang, satu hal yang saya rasakan, saya bahagia. Saya dan teman-teman telah berbuat baik hari ini. Saya jadi ingat dua orang  anak asuh saya saat ini, sudah lama tidak tahu kabarnya. Bulan ini memang penuh rahmat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: