Balada Toilet

Dimulai dari aku yang sedang nongkrong dengan tenangnya sembari bau-bau agak ndak sedap semilir-milir hinggap di hidungku yang sedikit agak besar dari rata-rata.  Saat seperti ini biasanya timbul ide brilian sampai ide aneh yang tak kunjung padam dari bawah kloset hingga atas ubun-ubun, tapi anehnya sudah hampir 15 menit kok ndak ada ide sama sekali di otakku ini… mbok sekali-kali mampir sebentar saja dan pastinya akan aku hidangkan minuman atau paling ndak makanan siap saji…hehhe..

Plung…! suara yang sungguh renyah terdengar, aku iringi dengan helaan nafas legaku dan suara guyuran air pun menderu… tapi hatiku sedikit resah… aku mulai putus asa dan kakiku sudah mulai kesemutan tapi ide ini ndak datang-datang. Apalagi yang harus kulakukan, tiba-tiba secercah harapan menjelang, tapi dok..dok…dok… ada yang mengetuk pintu toilet, “eh lo, udah belon? Ini udah di ujung neh” suara si mbul dari luar pintu. Ini orang emang sukanya ganggu aja, “oke.. oke.. ini uda selese kok..” teriakku.

Sepulang kerja kemarin menyisakan sedikit masalah, ndak sedikit seh… lumayan besar, ya ndak bisa disebut lumayanlah… ini sudah besar ! benar-benar masalah besar ! barang impor yang seharusnya datang dalam minggu ini ternyata ada masalah pada dokumennya sehingga harus melalui jalur merah di pelabuhan yang semua pada tahu kalau hal ini bakal memakan waktu lama untuk di selesaikan. Itu yang ada di pikiranku mulai subuh tadi hingga masuklah aku di toilet dan berharap datang ide solusi ketika ku keluarkan bahan sisa dari tubuhku ini.

Aku berjalan menuju kamarku dengan tatapan kosong, yang ada di pikiranku adalah berbagai pertanyaan keresahan bila masalah ini belum ada pemecahannya.  Bagaimana bisa kerja kalau barang impor itu ndak datang ? produksi bisa macet, pekerja harian bakal ndak dapat upah minggu ini, dan sepertinya akan ada klaim karena keterlambatan pemenuhan target produksi hingga sesuatu yang ndak di harapkan sama sekali – Surat Peringatan.

Bel masuk berdering. Bos ku langsung memanggil ke kantornya, “lo, Ello… ke ruangnku bentar.”

“iya pak, masalah knob ya pak ?” tanyaku.

“mhmm… kenapa ini lo ? ada solusi ndak ? bakal banyak yang ndak kerja ntar kalau ndak dateng nih barang, bakal banyak yang ndak bisa beli susu buat anaknya minggu ini.” Bos ku serius.

Jadi merasa bersalah, tiba-tiba telepon berdering. Bos ku mengangkat gagang telefon.

“hallo, iya… mhmm gini aja kalau itu bisa di disposisi dengan bahan lain yang sejenis, secara kasat mata ndak kelihatan kok.. ya.. ok.. thanks” suara bos ku terdengar sayup lalu menaruh kembali gagang telefonnya tapi tiba-tiba si ide mengetuk pintu otak ini.

“emang disposisi apaan pak ?” langsung saya bertanya.

“ya pemutihan, kita koordinasi sama bagian terkait dan meloloskan barang yang dimaksud untuk di pakai di produksi.” Jelas bos-ku.

Meski aku ndak begitu paham istilahnya tapi tahu maksudnya dan yang paling penting aku tahu apa yang akan aku lakukan, “nah itu pak, kenapa kita ndak beli di lokal saja pak dengan spec yang mirip dengan impor terus koordinasi dengan bagian terkait buat di lakukan disposisi.”

Bos ku tampak cerah, “coba kamu hubungi pembelian, cek stok lokal, ada ndak yang mirip dengan spec knob kita ?!”

“oke pak !” aku langsung tancap.

Pagi itu bagian pembelian nge-cek ketersediaan stok di lokal, aku harap-harap cemas karena our time is running out.  Tepat jam 09.30, si Ocha bagian pembelian telefon, “mas ello, ada neh mas, barangnya ada di Surabaya, agak mahal dikit seh dan kadar toxic-nya agak tinggi, gimana ?”

“Ok, aku ambil 1000 pc, bisa datang siang ini ?” langsung aku putuskan.

“mhmm… kayake bisa deh, coba aku confirm dulu… aku langsung pakai PO-nya itu yah.” Tanya si Ocha.

“Ok cha, pake PO itu aja… thanks yah” jawabku.

Aku hampiri ruangan bos ku, “Pak, kita dapat barang lokal-nya, tinggal kita lakukan meeting untuk disposisinya.”

“Sip, kumpulin bagian QC, Gudang Sparepart dan Produksi, kita meeting jam 10.30” pinta bosku.

Semua yang di undang meeting hadir, aku dan bos ku memaparkan rencana disposisi itu meski pada kenyataannya masih perlu confirm lagi tentang kedatangan barang tersebut… hehehe… pikirku semua harus jalan bersamaan, spekulatif dan ndak pasti memang, tapi apa ada yang benar-benar pasti di dunia ini… ndak ada kan ?

Akhirnya kami setuju.

Selesai meeting, langsung menuju mejanya si Ocha, “gimana cha ?”

“Ok mas, tadi juga aku udah bilang finance, kita udah deal harga, barang akan di kirim siang ini habis istirahat ya… sekitar jam 1 siang lah, paling nyampe sini jam 3an kalau lancar jalannya.” Papar si Ocha.

“wah sip cha, thank you yah cha…” balasku.

Aku berjalan untuk segera kembali ke mejaku dengan perasaan lega, biarlah yang impor datang telat, paling ndak sudah akan datang barang lokal yang bisa di disposisi meski harus menunggu sampai sore nanti, paling ndak para pekerja harian bisa terus kerja tanpa takut terlambat targetnya hingga kena klaim, paling ndak aku juga ndak jadi kena SP dan yang paling penting para pekerja yang sudah berkeluarga masih bisa beli susu buat anaknya minggu ini.  Aku bersyukur.

Mendekati mejaku, dari kejauhan ada secarik kertas berada tepat di atas keyboard-ku. Tertulis dari supervisor-ku,

“Drawer box-mu ga bisa di pasang, cek ukuran gambar, cek juga ke produksi sekarang.”

“ahh… whats next ?!” keluhku. Sepertinya sebelum ke produksi mending aku nongkrong dulu di Toilet.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: