Awan Malam

…. Menangislah… Bila harus menangis…
…. Karena kita semua manusia…
…. Manusia bisa terluka…
…. Manusia pasti menangis…
…. Dan manusia pun bisa… Mengambil hikmah…

Lagu dari Dewa ini teringang-ngiang terus ketika saya di pesawat dari Jakarta ke Surabaya…
Pesawat yang delay sekitar 1 jam krn ada problem aneh yg membuat sebagian orang percaya bahwa diakibatkan dari oknum yg menjual kembali tiket yg sdh di booking… He he he ada ada ajah…
Masuk waktu isya, saya tayamum dan sholat di pesawat.. Tiba-tiba saya menangis dalam doa usai sholat… Entah kenapa.. Suasana mungkin yg mendukung air mata ini yg keluar dari peraduannya…

Temaram…
Sepi krn penumpang yg lain pada terlelap dlm tidurnya…
Awan di malam hari yg sungguh mempesona…
Yang menyadarkan saya bahwa sedang berada di langit… Ribuan kaki dari bumi… Membawa pikiran ini melayang-layang dalam alunan doa yg dipanjatkan…

Saya ingat almarhum bapak saya yg belum pernah merasakan naik pesawat krn kala itu pesawat seolah kendaraan canggih yg masih sulit dijangkau dan beliau lebih memilih untuk menyekolahkan anak2nya dan menghidupi keluarganya daripada tiket pesawat…
Saya ingat ibu saya, yang juga belum pernah naik pesawat dan melihat awan berada di bawahnya seperti yang saya lihat saat itu di pesawat… Semoga masih ada kesempatan untuk membahagiakan beliau…
Saya juga ingat istri saya dan janin yg ada di kandungannya… Betapa saya ingin sekali selalu memeluknya.. Menatap wajahnya… Menikmati tiap perubahan yang terjadi ketika usia kehamilan terus bertambah…
Saya berusaha mengingat juga saudara-saudara saya beserta keluarga mereka… memaksa untuk menolak pikiran ini untuk lupa atas apa yg mereka telah lakukan untuk saya… Membantu biaya kuliah saya… Membantu biaya pernikahan saya… Mengingatkan hari lahir ibu yang sering saya lupakan… Hal kecil yg punya makna dalam di hati ini…

Serpihan-serpihan ingatan itu membawa saya menuruni tangga-tangga menuju palung hati hingga saya temui seseorang di balik pintu hati…
Dialah… Fahrur Rizal… Saya sendiri…
Apa yang dia lakukan di dasar hati ini…?
Ngapain dia di tempat sepi ini… ?
Dia mempersilahkan saya masuk… Kini ada dua Fahrur Rizal disana.. Di palung hati…

Dan ternyata dia tengah berusaha membersihkan tempat itu yang sudah lama kotor dan berdebu.. Menata kembali buku-buku tentang kebaikan sesuai urutannya agar gampang di cari untuk dibaca dan dipelajari…
Dan disaat itu saya melihat di sudut ruangan terdapat sesuatu yg saya kenal sebelumnya.. Saya mendekatinya…. Lebih dekat… Lebih jelas…

Suara dari sudut berlawanan mengatakan, “oh itu… Itu keburukanmu.. Sifat jelekmu… Sengaja aku taruh di sudut agar kau bisa melihatnya.. Mengingatnya… Agar kau ingat apa yang pernah kau lakukan dahulu…”
Saya berhenti sejenak dan melanjutkan langkah untuk lebih dekat hingga tak tertahan lagi air mata ini untuk keluar dari peraduannya…

Saya…
Menangis…
Dengan menengadahkan kedua tangan…
Saya memohon ampun…
Pesawat masih melaju dengan sangat tenang… Sunyi… Temaram…
Suara-suara masih mengelilingi benak ini, hingga akhirnya saya bertanya, “bila kau ingat akan semua hal ini, ingin di ingat sebagai apa kau nanti ketika kau sudah tiada ?”
Saya masih harus mencari jawabannya…
Awan-awan di malam hari itu indah sekali, lebih indah daripada siang hari, lebih indah disertai air mata…

Sent from BlackBerry® on 3

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: