Kisah Syok seorang Bapak

Ceritanya pada suatu hari, lebih tepatnya beberapa pekan yang lalu, si Kanya bersemangat sekali untuk berangkat sekolah (red : kelompok bermain). Sesuatu yang jarang ditemui sebelumnya….


“Kanya mau ketemu siapa sih di sekolah ?”, tanya saya – yang tidak lain adalah Bapak nya.


Kanya bilang dengan imutnya, “Ezzaaaaaarrr….”


Sontak saya pun langsung kaget, Nah loh…?! Siapa itu Ezzar (red : entah benar atau tidak penulisan namanya ini) ?

Saya tanya Bundanya Kanya dan tante nya tentang siapa yang dimaksud Kanya, karena feeling saya adalah :
  • pertama -> dia teman Kanya di kelompok bermain nya
  • kedua -> anak yang sedikit lebih besar usianya dari Kanya
  • ketiga -> dan ini yang paling saya takutkan, dia adalah laki-laki !!!

Bunda nya Kanya akhirnya menceritakan sekilas mengenai siapa yang punya nama itu, nama yang disebutkan putri kecil saya selain nama Bapak nya dan ternyata sesuai dengan apa yang saya feeling kan…! tiba-tiba meletus lah balon hijau… dooor !!! hatiku sangat kacau….

Jadi, hal itu juga sesuai apa yang di informasikan oleh ustadzah di kelompok bermainnya, si Kanya sering bermain dengan ini anak, kemana-mana bersama, pokoknya kompak lah…


Ok. Harus saya akui, saya… SYOK…!
Syok karena baru tahu kalau begini ya rasa khawatir nya di titipin Allah SWT seorang anak perempuan, khawatir juga tentang dosa-dosa yang pernah bapaknya buat pada jaman jahilliyah nya dulu berbuah karma kepada anak perempuan nya…

Beberapa waktu kemudian, saya biarkan diri saya untuk merenung sejenak, hati boleh kacau tapi otak ini tetap harus tenang agar bisa menjalankan fungsinya dengan baik, yaitu berpikir. Coba-coba saya bertanya kepada teman-teman yang punya anak perempuan dan mungkin mempunyai persoalan serupa, tak lupa juga googling tentang artikel yang berkaitan.
Dari beberapa literatur dan beberapa situs sumber yang saya baca, yaitu sumber1sumber2sumber3, apa yang dialami oleh Kanya masih dalam taraf normal, karena memang terdapat beberapa tahap perkembangan anak berdasarkan usia, tapi tetap saja masih berhasil membuat saya pilu dan membayangkan anak perempuan kecil itu lagi dekat dengan laki-laki lain selain Bapaknya.


Perkembangan anak yang awalnya serba dependen mulai beralih independen mengikuti perkembangan kemampuan bahasa, gerak dan kemampuan komunikasi dengan yang ada di sekitarnya. Hal ini biasa dimulai di usia 2 sampai 4 tahun. Di saat ini lah mulainya menyadari ada perbedaan antara anak perempuan dan lak-laki. Pada usia ini, mereka banyak mengeksplorasi bagian tubuh serta aktivitas sesuai dengan gendernya sehingga beberapa di antara anak usia ini pun mudah sekali dekat atau mengenal lawan jenisnya. Nah, disini biasanya para orang tua di sarankan untuk tidak bereaksi terlalu keras karena “mengenal dekat” dengan lawan jenis bagi mereka saat ini tidaklah sama maknanya dengan saat mereka nantinya beranjak remaja. Memang seharusnya saya tidak perlu terlalu khawatir, tapi OK… ! saya memang khawatir…


Beda lagi nantinya ketika usia anak sudah 5 sampai 8 tahun, justru anak mulai menyadari sepenuhnya identitas gendernya dari bentuk tubuh yang berbeda antara perempuan dan laki-laki sampai perasaan malu dan tabu terhadap lawan jenis apalagi terhadap beberapa istilah seksual. Oleh karena itu, pada masa ini, anak akan banyak bermain dengan sesama jenis dan banyak mempelajari peran sesuai dengan jenis kelaminnya. Namun karena ada perasaan malu itulah sehingga bakal ada banyak sekali hal-hal yang membuat mereka penasaran karena pertanyaan dari logika mereka. Bahkan prediksi saya, orang tua harus bersiap untuk menjawab rasa penasaran itu terutama pada sesuatu yang terkait pendidikan seks. Saya sampai merinding membayangkan momen itu nanti… hehe…
Oleh karena itu, disarankan orang tua bisa memberikan jawaban sederhana, apa adanya, dan masuk akal sehingga rasa penasaran anak terjawab dan tidak mencari jawaban dari sumber-sumber yang belum tentu bisa dipertanggungjawabkan.

Belum lagi perkembangan anak diatas 8 tahun… aiiih.. ! apalagi di usia 17 tahun… waaaaaahhhhh…!
Inilah anugerah sekaligus tantangan dari Yang Maha Kuasa ketika di beri amanah berupa anak. Dan kali ini amanah untuk kami adalah seorang anak perempuan.


Hal yang sama juga banyak di sampaikan oleh beberapa teman, bahwa jangan terlalu khawatir.
Khawatir yang berlebihan malah membuat banyak hal makin tidak terkendali. Membuat Kanya nyaman dengan orang tuanya adalah hal utama saat ini, apalagi sampai bisa berbicara dari hati ke hati layaknya dengan teman dekat. Karena dengan membuat dia nyaman, maka dia bisa bercerita apa saja dan pada saat itu juga sebagai orang tua bisa mengawasi dan langsung bisa memberikan informasi apa yang dia butuhkan tentang konskuensi dari setiap keputusan yang akan di hadapi dia nantinya.

Seorang kawan bilang, “bro jangan terlalu memikirkan apa yang terjadi esok hari, itu bakal membuatmu tidak tenang. Hiduplah untuk hari ini, fokuslah sama apa yang kamu kerjakan hari ini dan lakukan yang terbaik. Itu lebih bijak.”  




Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: