Di balik setiap Sikap

Di tengah obrolan malam itu di sebuah cafe, kawan saya yang bernama Agus S. menunjukkan suatu hal yang saya pikir ada benarnya.

“Yunk… kalau aku bilang sama kamu… Janc*k…”, dia memperagakan dengan suara yang datar, sama sedikit tersenyum.

“…dengan kalau aku bilang… Jiaaanc***k…!!!”, dia mengatakannya sambil melihat saya dengan wajah yang serius, mata melotot, suara berat dengan penuh emosi.

Lalu kawan saya, si Agus ini melanjutkan, “kira-kira mana yang membuatmu tersinggung dan teringat banget di otakmu ?”

Sontak saya langsung menjawab, “ya yang kedua lah… yang penuh emosi itu”


Akhirnya dia menjelaskan sekaligus menasehati saya secara tidak langsung. Hal ini sama hal nya ketika di lingkup pekerjaan, ketika kita membawahi beberapa personil misalnya. Sikap kita lah yang paling di ingat dan membekas terhadap orang lain. Termasuk sikap kita terhadap anak buah.

Kawan saya itu tidak pernah memarahi anak buahnya, yang ada adalah memberi pengertian tentang baik buruknya dalam melakukan tanggung jawab mereka. Marah. Selain tidak efektif dalam membangun suatu hubungan, juga bakal menghabiskan banyak tenaga. Kawan saya yang lain juga begitu, Angga namanya. Alih alih memarahi anak buahnya yang terlambat masuk kerja, dia malah senyum saja. Ternyata, justru menimbulkan efek “sungkan” pada mereka dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi.

Kadang apa yang kita lakukan secara tidak sadar atau dengan alasan lain sebagai pembenaran kepada orang lain, justru bisa menciptakan “iblis” baru di hati mereka.

Ya begitulah, otak lebih cepat merespon dan mengingat sikap daripada kata-kata atau yang lainnya. Saya jadi ingat sama Kanya. Sama hal nya ketika memperlakukan anak-anak kita, ketika kita memarahi nya dengan wajah yang seram apalagi di tambah dengan main pukul, mencubit, menampar. Sikap itulah yang akan di ingat dia sepanjang hidupnya daripada kata-kata kita, meskipun isinya juga sebenarnya nasehat tapi di ucapkan dengan nada kasar dan sedang marah.

Sebisa mungkin marahnya di tahan dengan mengeluarkan kata-kata dengan nada rendah untuk menasehati, apalagi dengan anak yang masih sekitar 2 tahun. Apa yang di lakukan pada saat ini sangat berpengaruh pada anak ketika dia beranjak dewasa nantinya.

Saya melihat Kanya seperti melihat server yang punya kapasitas super besar, yang bisa menampung dengan mudah setiap apa yang dia lihat, apa yang dia dengar, dan apa yang dia rasakan. Di simpan sebagai data base yang sewaktu-waktu bisa di olah menjadi suatu data untuk di analisa kemudian hari.

Saya berpikir untuk tidak ingin memberikan dia data yang keliru. Data yang akan dia olah nantinya haruslah data yang baik atau paling tidak sebagian besar data yang baik daripada data yang buruk, agar ketika dia menganalisanya kelak, keputusan yang di pilih tidaklah salah, kalaupun salah, dia sudah tahu konskuensi dan solusinya.

Dan dalam rangka untuk memberikan data yang baik (versi ego saya), maka saya lakukan percakapan dengan kanya.

Saya, “..Annya… Annya… Bapak ganteng kayak sapa ?”

Kanya. “…mmhhhmmm… kayak… onnyeeett….”

Saya, “………………” 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: