Secarik Kertas

Sekitar jam 1 dini hari tiba-tiba Kanya teriak sangat keras, “Pinnnn… Ipiiiinnnn….!!!”
Lalu di lanjutkan dengan merengek dengan permintaan yang sama.
Kami sampai terbangun mendengar teriakan itu, dan ketika mulai tenang dan saya yang mulai emosi, istri saya bilang, “Dia kayak sakaw gitu… bukan… bukan… sapin…! sakit karena upin ipin…”

Pernyataan istri saya itu membuat saya langsung berpikir (ciri khas tipe introvert), kalau ternyata sangatlah mudah membuat seseorang “kecanduan”.

Saya inget waktu awal memperkenalkan serial Upin Ipin sekitar 6 bulan yang lalu dengan melihat tayangan di televisi. Karena tampak senang sekali melihat tayangan itu, dibelikanlah dvd nya agar bisa melihat kapan saja tanpa harus menunggu jadwal tayang di televisi. Kala itu masih ada beberapa serial kesukaannya, yaitu Upin Ipin, Thomas & friends, dan Jarwo Sopo. Tapi, dari ketiga serial itu yang bertahan sampai sekarang adalah Upin Ipin.

Dengan adanya dvd yang sampai beberapa keping itu, Kanya bisa melihat Upin Ipin pas habis di gantiin baju, pas makan, di perjalanan saat di mobil, sampai sebelum tidur malam. Tiada hari tanpa Upin Ipin, bahkan Bapaknya saja bisa di anggap Ultraman Ribut (Red – salah satu episode dalam serial Upin Ipin). Saya saja sampai hafal cerita di setiap episode, kenal sama tiap tokoh dan karakternya masing-masing sampai hafal momen dalam kisah nya yang Kanya sukai.

“Dosis” bertambah.
Kadang di saat kami orang tuanya sedang lihat acara yang bagus di televisi, lalu Kanya minta lihat Upin Ipin, kami enggan menggantinya ke dvd karena acaranya sedang bagus-bagusnya. Atau ketika kami sedang makan di luar, supaya Kanya tenang dan enak pas nyuapin. Nah, dipinjamkanlah salah satu dari ponsel kami, lalu buka Youtube, ketik “upin ipin” dan wuusssh…! keluar semua ! Upin ipin yang dia sukai…
Kami ajari dia cara sentuh dan scroll pada touch screen agar dia tidak terlalu banyak memanggil kami kalau ingin episode yang lain. Dari dvd beralih ke youtube.

Sekarang yang di cari Kanya adalah ponsel Bapaknya atau Bundanya, bahkan ketika tertidur pun masih memanggil nama Upin atau Ipin. Kanya seperti secarik kertas polos, tanpa sadar kami telah memenuhinya dengan banyaknya episode serial Upin Ipin.

Ini yang membuat saya resah, dan memutar otak bagaimana cara yang terbaik tanpa membuat anak trauma untuk mengurangi kadar kecanduan. Tulisan ini juga cukup lama sebagai draft saja, karena saya belum mau meriliskan ketika masih belum dapat solusi tentang hal ini.

Dari beberapa literatur yang saya baca, untuk mengurangi dosisnya adalah dengan cara berikut :

  • membatasi dalam penggunaan gadget
  • memberikan si anak kesibukan lain sehingga teralihkan
  • sebisa mungkin orang tua tidak menggunakan gadget ketika sedang mengasuh anaknya
  • orang tua memberikan waktu yang lebih berkualitas untuk bermain bersama anak
Ok. Tapi saya masih belum merasa cukup dengan itu. Kebetulan ada seminar parenting sebelum acara pengambilan rapot di sekolah tempat Kanya bermain. Saya bertanya di situ, dan jawabannya cukup mengejutkan.

“kita tahu bahwa sebagian besar tayangan upin ipin itu bagus buat anak pak, hanya saja perlu di dampingi orang tua agar bisa memberi penjelasan yang baik pada anak”, kata trainernya.

Selanjutnya beliau menambahkan khususnya bila anak buka internet semisal youtube, karena kadang ada iklan-iklan atau konten-konten lain yang mungkin bisa tidak sengaja tersentuh oleh si anak, makanya perlu pendampingan. Sarannya adalah ketika mau tidur bisa coba di bacakan buku cerita atau dongeng sebagai pengantar tidur. Hal ini bisa membuat anak terstimulasi agar senang membaca.

mhmm…. saya benar-benar berfikir dan mulai mencobanya. Komitmen dengan istri sudah jelas, tidak ada Upin ipin via youtube di ponsel dan sebisa mungkin cukup dari dvd saja untuk mengurangi dosisnya serta memberikan varian film kartu edukatif lainnya sehingga Kanya jadi punya banyak referensi.

Mulai hunting buku cerita untuk anak sekarang. Untuk sesi ini, istri saya yang paling suka. Paling suka lihat buku membelinya, dan tetap terplastik bagus ketika di rumah 🙂 bacaan yang dia suka adalah traveling, meskipun kadang saya memancingnya ke sudut resep masakan dia malah beralih ke komik.

Waktunya mengambil secarik kertas yang baru, mulai di tulis kembali hingga di gambar yang bagus, sampai menghasilkan hasil yang indah nantinya, termasuk di halaman-halaman berikutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: