Media Sosial

Sempat membayangkan nantinya media sosial menjadi cara kita melihat karakter seseorang, setidaknya buat bagian HRD yang mungkin saja tidak memerlukan CV lagi seperti cara mainstream saat ini, tapi justru melihat dari akun facebook si calon pelamar kerja dengan update stastusnya juga interaksi dengan teman-temannya.

Dari media sosialnya pun bakal menciptakan sesuatu yang membuatnya bisa lebih dekat dengan member nya, mungkin nantinya tidak perlu lagi mengetik untuk membuat status karena cukup dengan dari bersuara sudah bisa membuat status, bahkan ketika baru muncul di pikiran bisa langsung jadi status. Mungkin itulah kenapa terdapat tagline di kotak status facebook tertulis “What’s on your mind ?”
Saya sangat sadar dengan perkembangan teknologi akhir-akhir ini, yang membuat saya agar lebih berhati-hati dalam menulis, upload, bahkan mencari apapun via internet. Meskipun saat ini saya belum menjadi orang penting dan terkenal di mana-mana, paling tidak kebiasaan saya saat ber internet ria sudah bisa di analisa sama google. Dia tahu apa yang biasa saya lihat di youtube, sehingga ketika saya baru buka aplikasi itu, saya sudah di sarankan beberapa tayangan yang mungkin di suka berdasarkan apa yang biasa saya lihat. Dia bisa lebih mengerti saya daripada saya sendiri.

Suatu saat teman saya meminta saya untuk ngobrol di rumahnya dengan alasan sangat penting demi masa depan. Saya terperangah. Tidak biasanya dia bertingkah seperti ini. Sesampainya di rumahnya, dengan wajah serius dia bilang :

“Ajari aku Instagram dan Twitter…..”

Saya sangat kaget dengan permintaannya. Dia yang saya kenal adalah orang yang anti mainstream dalam hal media sosial disaat kawan-kawannya yang lain (termasuk saya) keranjingan hal itu. Lha wong facebook saja dia tidak punya. Alasannya ketika dia tiba-tiba ingin belajar media sosial hanyalah karena dia ingin bisa mengontrol dan mengawasi anaknya di kemudian hari. Dia mugkin ada kekhawatiran tersendiri tentang hal itu, apalagi anaknya baru lahir. Mungkin dia juga tidak ingin nantinya ketika dia mau login ke komputernya sendiri di rumah, dia malah di suruh masuk di sistem guest, karena administratornya dipegang anaknya… hahaha… jujur, itu juga kekhawatiran saya… hahaha…

Untungnya seperti google paling tidak sudah ada parenting guide dalam hal aplikasi di google play nya, sehingga kita bisa memberikan aplikasi yang sesuai dengan umur anak, bahkan di haruskan untuk memasukkan kode khusus kalau mau install aplikasi yang hanya bisa di lakukan orang dewasa, barangkali si anak tidak sengaja pencet. Ini salah satu cara kontrol dalam hal konten aplikasi. Bahkan pendiri facebook saja bilang bahwa anaknya yang baru saja lahir itu nantinya akan punya akun facebook pada usia 13 tahun, sesuai aturan yang berlaku di negaranya sana

Nanti, ketika anak-anak sudah mulai beranjak dewasa, tidak menutup kemungkinan bahwa dia bakal menulis nama kita orang tua nya di google hanya sekedar ingin tahu rekam jejak kita di dunia maya. Nah, kalau sudah seperti itu, pertanyaan selanjutnya adalah “kita ingin di kenal sebagai apa nantinya di Google ?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: