Tiada Lagi Kucing [#5]

Dibangunkan istri, persiapan sahur. Keluar kamar dan masih ingin merebahkan badan sebentar di kasur darurat bersama Kanya, tiba-tiba suara telepon rumah berbunyi. Saya saling berpandangan dengan Istri dari dapur, telepati saya berbicara, “kamu saja yang angkat…!”. Istri saya juga bermain telepati dengan menggerakkan bola mata dan alisnya seolah bilang, “No..No..! Kamu saja yang angkat…!”.

Telepati itu saling bergantian belum selesai, sedangkan bunyi telepon masih berdering. Akhirnya saya yang mengalah. Iya, mengalah untuk menang. Saya angkat telepon nya. Ternyata dari Ibu saya. Kata pertama yang di ucapkan Ibu adalah, “Sahur pakai apa ?”. Langsung saya jawab dengan santai, “mie goreng…”

Perempuan di ujung dapur sana berteriak tanpa suara lalu bilang, “kenapa ngomong ibuk..?!” Saya tetap kalem dan meneruskan perbincangan dengan Ibu mengenai keluarga dan nasehat ke anaknya untuk perannya sebagai seorang suami, bapak dan juga anak sekaligus hingga bagaimana bersikap dan menyeimbangkan semua peran tersebut.

Kanya masih terlelap.

Usai sahur dan saya bersiap untuk sholat Subuh, istri minta izin tidur sebentar karena capek habis mengerjakan banyak tugas, katanya. Pokoknya jam 5 pagi minta saya bangunkan.

Sambil memotong kuku yang mulai memanjang saya lihat jam dinding sudah pukul 5 pagi, saya bangunkan istri. Alhamdulillah dia langsung bangun, tapi saya yang mulai mengantuk. Sekitar jam setengah enam saya tertidur di samping Kanya di atas kasur darurat.

Seperti ada yang mencakar-cakar wajah saya. Ternyata Kanya menyuruh saya bangun. Jam 6 sudah lewat beberapa menit. Istri sudah siap-siap memasukkan tas ke mobil. Hari Jumat, istri berangkat kerja lebih pagi karena ada senam, saya ulangi, ada senam. Saya perlu jadi tukang parkir sebentar. Kanya mengikuti di belakang saya, sepertinya ingin mengajak bermain.

Saya mulai menempati posisi di luar pagar sambil melihat bagian belakang mobil. Waktunya memarkir mobil. Istri masuk menghampiri saya untuk pamit dengan tergesa-gesa dan langsung masuk mobil. Mesin sudah menyala lalu segera posisi mundur.

Mobil baru bergerak mundur, tiba-tiba aa suara teriakan yang lumayan keras, saya lihat ke lantai atas, mungkin suara itu dari kucing yang ada disana. Suara teriakan itu masih terdengar dan makin rapat. Saya jadi curiga. Istri saya suruh berhenti dulu dan jangan mundur, saya tengok ke bawah mobil dan langsung terlihat oleh saya, anak kucing yang sedang bergerak-gerak kesakitan dan sempat terlihat darah di sana. Saya dan istri sangat kaget, sepertinya kucing itu sedang berada di sekitar ban mobil yang kami berdua tidak menyangkanya.

Kejadian itu begitu cepat, dan ketika saya tengok untuk kedua kalinya, gerakan anak kucing itu mulai melemah. Ibu penjaga yang merawat anak kucing itu dan induknya telah datang, tapi kucing itu sudah tidak bergerak, tidak ada raungan lagi. Mati.

Saya dan istri langsung duduk lemas di teras depan. Shock. Istigfar. Kami tidak berbicara beberapa saat, malah justru ibu itu yang coba menenangkan. “Sudah tidak apa-apa, lha wong tidak tahu kok, cepat berangkat kak, nanti telat…”

Istri saya yang merasa bersalah, karena tahu bahwa anak kucing itu kesayangan anaknya sang Ibu. Istri saya meminta maaf. Saya hanya diam dan mulai membersihkan bekas darah di garasi dengan di semprot air. Kanya juga jadi ikut diam, mungkin dia juga mengerti kalau kucing itu telat mati. Sambil mengantar Bundanya berangkat, Kanya mencoba bilang sesuatu kepada saya, “Kucingnya eek ya….?”

Kanya sudah mandi, sudah sarapan, dan sekarang waktunya kami berangkat. Tapi tak di sangka, sudah sekitar 15 meter dari rumah, tersadar bahwa ban depan motor kempes. Saya sempat mulai panik, tapi mencoba tenang. Tiba-tiba saya teringat tempat tambal ban yang biasa saya dan Kanya lewati tiap pagi. Motor saya coba nyalakan, tapi dengan berjalan super lambat, hingga akhirnya tiba di tujuan. Jadilah kami menambal ban pagi-pagi. Baru kemudian mengantar Kanya ke sekolah.

Tiba di kantor. Saya telat untuk kesekian kalinya. Mulai tidak enak kepada rekan kerja yang lain. Tiba-tiba ada komplain via WA grup. Lalu datang lagi permasalahan via email. Sepertinya akan banyak komplain hari ini. Benar. Saya sempat pening di buatnya. Berharap cepat segera pulang, karena seharian masih merasa shock dengan kejadian pagi tadi.

Kali ini tidak terlalu sibuk memasak buat berbuka, istri sudah beli lauk. Hanya saja berkejar-kejaran denga kucing sudah tidak ada lagi. Sepi juga ternyata. Kanya juga sudah mulai baikan tentang masalah pub nya itu, hanya saja perlu di awali dengan drama. Kanya juga masih menemani kami orang tuanya yang sedang sholat teraweh dengan memakai ponsel Bapaknya untuk melihat mainan masak-masak di youtube.

Khawatir tentang Kanya yang sering terlalu lama di depan ponsel dan jarang gerak, istri coba mainkan musik, lalu mengajak Kanya berjoget ria. Dia suka, hingga mengeluarkan gerakan yang tak terduga, yang selalu membuat kami tertawa, dan capek pada saat yang sama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: