Bukan Tak Mungkin [#8]

Tidak terasa sudah hari kedelapan puasa ramadhan. Tidak ada yang bisa di ucapkan selain Alhamdulillah, masih di beri kesehatan dan kesempatan. Sahur kali ini di awali dengan mengganti celananya Kanya yang basah karena ngompol. Selimut yang juga ikut basah di karantina dulu baru kemudian diganti celananya, lalu si Kanya, tidut lagi.

Sahur kali ini tumben istri tidak menghidupkan televisi. Biasanya dia selalu melihat tayangan yang penuh dengan canda tawa yang bagi saya cukup berisik. Saya merindukan suasana sahur yang syahdu tanpa keriuhan. Tapi kali ini berbeda. Suasana sangat sepi, hanya terdengar suara obrolan kami berdua dan tentu saja, suara dengkuran anak Kanya.

Adzan Subuh berkumandan, persiapan ke masjid. Istri tidur sejenak dan biasanya minta di bangunkan jam 5 pagi. Sepulang dari masjid, saya bergegas sedikit bersih-bersih, yang utama adalah mencuci mobil. Sudah dari kemarin saya berjanji membersihkan mobil tapi selalu saja tertunda. Mumpung ada kesempatan, saya cuci saja.

Kali ini rute mengantar Kanya adalah harus mampir ke rumah tante nya, karena tas nya Kanya ketinggalan pas hari sabtu kemarin. Terlihat sosok yang menyita pandangan, tante nya Kanya yang minta di panggil Mamski. Ternyata Mamski sudah menyiapkan tas dan isi nya, sehingga saya bisa langsung mengantar Kanya ke sekolah. Dan tentu saya agar tidak terjadi keterlambatan ke kantor lagi yang merupakan contoh yang buruk bagi yang lain, meskipun sebenarnya saya tahu bahwa tiap orang itu unik dan tidak harus di sama ratakan dengan masuk kerja pada jam yang sama.

Kantor sepertinya dalam keadaan aman-aman saja, sampai suatu saat ada pesan masuk di WA grup mengenai pemenuhan spare part permintaan konsumen yang tidak kunjung di penuhi. Permasalahannya adalah harus di akui bahwa produk yang di hasilkan itu memang tidak standar, jadi bila ada permintaan spare part suatu komponen tersebut akan sulit untuk di penuhi karena tidak bisa menjamin dapat langsung di pakai. Sedangkan untuk membuat standarisasi di semua lini itu tidak mudah. Pertama yang paling utama adalah hal itu juga menjadi prioritas dari pimpinan sehingga bisa mendapat fokus lebih dan menjadi dukungan bagi kami selaku karyawannya. Tidak mudah tapi bukan tidak mungkin untuk dilakukan.

Solusi sementara sudah di tawarkan, tinggal eksekusi kedepannya saja. Waktu sudah menunjukkan menjelang waktu pulang. Saya ingin pulang on time kali ini. Ada beberapa titipan dari istri seperti : nasi padang, cilok daging, dan milk tea.

Dari semua titipan itu, yang paling lama antri nya adalah saat beli cilok daging. Sabar menanti diantara banyak nya kaum hawa dan waktu sudah tinggal sekitar 10 menit lagi menuju adzan magrib.

Saya pulang tepat setelah adzan magrib berkumandang dan langsung membatalkan puasa saya. Tampak anak kecil sedang duduk di kursi meja makan, makan tahu goreng buatan Bundanya. Usai sholat, saya bersama istri makan nasi padang yang porsi nya parah sekali, satu porsi nya bisa buat makan 3 orang. Tapi saya habis. Selesai perkara.

Kami teraweh dalam keadaan kenyang kekenyangan. Kami berdosa. Istri berkali-kali menghela nafas panjang. Saya yakin sebentar lagi dia bakal mengantuk duluan. Kanya masih tetap dengan gaya nya ketika menunggu kami selesai teraweh. Tapi sempat di tengah-tengah kami hampir selesai sholat, Kanya menghampiri kami dan bilang, “Bunda, mau pipis…” Saya langsung agak tidak fokus, kuatir kalau sampai Kanya tidak bisa menahan dan pipis di tempat sholat. Alhamdulillah Kanya sudah pintar dan sudah besar (baca : besyaaar).

Kanya masih tidak mau tidur padahal sudah menunjukkan pukul 10 malam. Bundanya sudah membuat danau air liur di bantal. Kanya saya suruh tidur karena saya tahu dia sudah sangat mengantuk, tapi dia tidak mau, malah menangis. Menangis sangat keras. Saya coba biarkan. Makin keras. Saya biarkan. Lebih keras. Tetap saya biarkan. Lalu hening. Dia tertidur. Saya terkejut. Tapi lega. Wajahnya yang sempat memerah karena menangis, kini sudah kembali normal. Anak saya cantik.

Hari ini memang perlu kesabaran. Baik dalam hal pekerjaan sampai mendidik anak maupun istri. Sabar itu tidak terbatas. Menjadi sabar itu tidak mudah, menyadari bahwa hal itu tidak terbatas juga bukan perkara mudah, tapi meskipun seperti itu, menjadi sabar yang tak terbatas bukan tidak mungkin untuk dilakukan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: