Kucing Punya Cerita [#6]

Baiklah. Kucing kecil itu telah tiada, tapi hidup harus terus berlanjut. Istri berdebar menanti ponsel baru nya datang. Saya juga berdebar ikhlas akan mendapat ponsel lawas sang istri. Kanya juga berdebar menanti pub yang tidak teratur akhir-akhir ini.

Hari ini, yang harusnya libur, Istri saya masuk kerja karena ada rapat. Kanya di ajak ke tantenya. Saya langsung ke tempat kerja agar tidak telat lagi.

Masalah di tempat kerja masih menyisakan sedikit persoalan. Tapi, apapun solusi yang di tawarkan tidak akan bisa berkutik, ketika bertemu dengan kebijakan pimpinan. Makanya, saya tidak terlalu memusingkannya. Bila memang kebijakan seperti itu, akan di jalankan meskipun secara data sudah sangat jelas.

Kanya masih saja mengira kucing yang kemarin itu sedang eek. Berdasarkan cerita dari istri yang sedang tertidur di rumah adiknya, yang membuat saya menunggu cukup lama kedatangannya pulang ke rumah.

Ponsel baru istri saya telah datang, dan dia mulai heboh sendiri karena sim card nya berbeda dan tidak bisa masuk. Sim card nya itu terdiri dari micro dan nano. Wajahnya mulai memelas. Saya coba bantu dengan nekat menggunting micro sim nya itu dengan menjadi ukuran nano. Momen yang agak mendebarkan memang, karena wajah istri saya yang seolah mau meneteskan air liur. Alhamdulillah sudah bisa terkoneksi, dan istri saya bahagia.

Sambil menunggu berangkat jalan-jalan, istri mengobrol dengan Ibu penjaga rumah mengenai kucing nya yang sudah tiada itu. Dari informasi yang di dapat, sebelum kematian anak kucing itu, induknya semalaman tidak pulang, si anak belum di menyusu sehingga agak lemas pagi nya lalu menunggu induk nya pulang di garasi depan di bawah ban mobil. Oh, jadi begitu. Saya jadi teringat kalau akhir-akhir ini memang induk kucing itu sering di datangi beberapa kucing jantan di teras rumah. Kadang meraung-raung tidak jelas, sehingga sering kali saya bubarkan saling berpandangan mereka itu dengan semprotan air. Bubar semua, dan saya puas.

Saya bilang ke istri, “Mungkin tidak pulang itu karena lagi dugem hun terus check in …” Istri saya hanya menoleh dengan wajah yang bisa mendeskripsikan kata-kata nya, “Gila lu ndro…?!” Saya juga yang salah, bulan puasa seperti ini berprasangka buruk sama kucing.

Jadi juga jalan-jalan ke pasar malam, memenuhi janji ke anak Kanya naik odong-odong. Bermain memancing hingga naik kendaraan hias yang membuat istri saya was-was takut roboh ketika dia yang naik. Kami lanjut dengan mengantarkan sedikit camilan dan makanan ke kantor istri saya. Di sana banyak klien tuna netra juga siswa SMK pekerja sosial yang menjaga. Di sini saya sering melihat aktivitas mereka yang kadang membuat hati ini merasa banyak bersyukur di beri banyak kenikmatan. Usai itu, kami langsung pulang hingga Kanya tertidur di mobil.

Sesampainya kami di rumah, langsung memindahkan Kanya ke kamar. Dan kami mulai makan malam, karena selama buka puasa tadi kami belum makan malam nasi. Kami lanjutkan dengan setting ponsel kami sampai terkantuk-kantuk. Sebelum tertidur, saya paksa kan diri ini untuk sholat teraweh. Sayang, karena hanya ada di bulan ini. Baiklah, saya tidur dengan ponsel baru lungsuran dari punya Istri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: