Get Well Soon, Hun ?! [#15]

Setelah dua hari Istri saya sempat tidak masuk kerja. Hari ini rencananya mulai masuk kerja dan berpuasa kembali. Tapi, sahur kali ini saya memiliki perasaan tidak enak terhadap Istri yang terlihat agak lemas. Hanya saya pendam saja, takut jadi sugesti nantinya.

Kami siap-siap beraktifitas pagi ini. Kanya cukup kooperatif, penuh dengan ocehan pagi yang selalu berhasil membuat saya tersenyum dan kadang mengernyitkan dahi. Saya dan Kanya berangkat dulu dengan penuh semangat. Istri masih harus siap-siap dulu. Di bulan puasa ini jam kerja ada penyesuaian sehingga agak siang masuknya.

Sesampainya di kantor dan baru saja mengecek email, tiba-tiba Istri menelepon. Tumben. Ternyata Istri memberi kabar kalau dia mau ke puskesmas yang kebetulan tempatnya tidak jauh dari kantor untuk periksa. Saya jadi ingat apa yang sempat di duga sebelumnya. Badannya timbul ruam yang memerah dan suhu tubuhnya mulai meningkat. Saya kuatir kalau sampai sakit yang sekarang sedang tren di lingkungan saya. Demam berdarah dan tifus (tipes). Istri juga sempat minta tolong untuk di carikan daun ubi jalar yang bisa di gunakan sebagai obat.

Saya langsung telefon ibu, karena saya sendiri tidak tahu bentuknya daun ubi jalar itu seperti apa. Takutnya malah salah daun yang di maksud. Alhamdulillah ibu siap membantu. Saya izin sejenak keluar kantor untuk menemani Istri di Puskesmas. Benar juga ketika saya lihat lengannya memang terlihat memerah dan agak demam. Hari ini dibatalkan saja puasanya.

Puskesmas sekarang canggih ternyata, ada lab nya sendiri, sehingga ketika Istri di suruh tes lab bisa langsung di sana juga. Ketika hasil lab keluar, taraf trombosit masih normal tapi ada kemungkinan untuk turun dan bisa cenderung ketemu sama penyakit yang saya sendiri tidak mau membayangkan dan berharap semoga di jauhkan.

Rencananya Istri kembali ke tempat kerja lalu jemput Kanya di rumah adik ipar. Tempat transit Kanya ketika habis dari sekolah dan menunggu jemputan dari Bundanya. Saya yang akan ke rumah Ibu untuk mengambil daun ubi jalar itu sekalian kalau ada lauk bisa saya bawa. 🙂

Ketika akan berangkat, Istri telefon lagi kalau sudah di rumah dengan di antar oleh Memel, adik nya. Dia bilang tidak kuat menyetir, lemas. Untung ada keluarga yang siap membantu. Saya bersyukur tapi juga kuatir di saat yang bersamaan.

Sesampainya di rumah, saya melihat Istri masih berusaha menyiapkan makanan untuk berbuka. Untuk saya. Tapi setelah itu, dia langsung masuk kamar. Menghilang. Istirahat. Saya menjaga Kanya agar bisa fokus ke saya saja, agar Bundanya bisa tidur.

Saya selalu takut kalau istri sakit, karena saya tidak bisa membayangkan kalau dia tidak hadir membuat ulah seperti biasanya. Dia membuat saya merasa semangat untuk bersih-bersih rumah, karena dia yang selalu membuat kotor dan berantakan. Dia membuat saya lebih memilih untuk bersabar dengan ulah Kanya, karena dia yang seringkali menjadi tokoh antagonis nya. Dia membuat saya lebih menghargai kata “cinta” dan suatu senyuman, karena dia yang paling sering melakukannya walau pun di kala saya sedang marah kepadanya.

Saya akan berusaha kuat agar Istri tenang dalam fase penyembuhannya.

Get well soon, Hun…?!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: