Tantangan Sebagai Karyawan Perusahaan Keluarga

Barangkali saya adalah satu dari sekian banyak orang yang tidak terlalu nyaman bekerja di sebuah perusahaan keluarga. Iya, perusahaan yang beberapa pemegang jabatan tinggi mempunyai hubungan darah dengan pemilik perusahaan. Dengan kata lain termasuk keluarga. Iya, perusahaan keluarga.

Sebenarnya ada beberapa alasan kenapa bisa sampai membuat saya tidak nyaman.

Tapi, sebelum membahas hal itu. Saya kira lebih baik membahas terlebih dulu tentang apa saja yang perlu diketahui tentang perusahaan keluarga.

Robert G. Donnelley, dalam bukunya “The Family Business” menerangkan bahwa organisasi dinamakan perusahaan keluarga apabila paling sedikit ada keterlibatan dua generasi dalam keluarga itu dan mereka mempengaruhi kebijakan perusahaan.

Perusahaan keluarga dibedakan dua jenis, yaitu adalah Family Owned Enterprise (FOE) dan Family Business Enterprise (FBE). Mari kita bahas satu persatu.

Family Owned Enterprise (FOE) adalah perusahaan yang dimiliki oleh keluarga tetapi dikelola secara profesional oleh orang-orang diluar keluarga. Peran keluarga hanya sebagai pemilik dan tidak melibatkan diri dalam operasional perusahaan di lapangan.

Family Business Enterprise (FBE) adalah perusahan yang dimiliki dan dikelola oleh keluarga pendiri nya. Posisi jabatan kunci dalam perusahaan di pegang oleh anggota keluarga. Perusahaan seperti ini yang banyak di negara ini.

Saat tulisan ini dikerjakan, saya masih tercatat menjadi karyawan dalam sebuah perusahaan keluarga berjenis FBE (Family Business Enterprise). Dimana jabatan kunci dipegang oleh saudara kandung dari pemilik perusahaan.

Ini menjadi keuntungan tersendiri bagi perusahaan karena ketika dipegang oleh anggota keluarga, rasa memiliki atau loyalitas kepada perusahaan makin tinggi apalagi pemilik kemungkinan besar lebih percaya kepada saudara sendiri daripada karyawan lain di luar keluarga, sehingga akan merasa aman dalam proses operasional nya.

Namun, disisi lain juga ada beberapa kelemahan dengan tipe perusahaan seperti itu terutama dari mata seorang karyawan seperti saya ini, diantaranya adalah sebagai berikut :

Bukan yang ahli di bidangnya

Ahli dengan berpendidikan jelas mempunyai arti yang berbeda. Ahli mencerminkan ilmu yang secara dalam di asah terus menerus di bidang tertentu, sehingga menghasilkan ketajaman dan keakuratan dalam menghasilkan sesuatu.

Saya rasa untuk menjadi pemimpin tidak harus berpendidikan tinggi, tapi harus ahli di bidangnya sehingga hasil nya bisa optimal dan tidak sampai dibohongi anak buah nya.

Nah, dalam hal ini apa jadinya bila pemimpin-pemimpin tersebut yang termasuk anggota keluarga bukan termasuk orang yang ahli di bidangnya ? Tim tersebut akan susah untuk berkembang dan akan menemui kesalahan-kesalahan yang sama terus karena permasalahan sebelumnya tidak ada solusi dan dibiarkan berlalu.

Ketika ada permasalahan tidak segera di selesaikan, maka akan menemui permasalahan baru, dan ini akan terus bertambah hingga mencapai suatu titik tertentu.

Susah diatur

Di suatu perusahaan sangat lumrah bahkan harus ada peraturan-peraturan yang mengikat terutama dalam hal kedisiplinan semua karyawan yang bekerja di situ.

Tapi bagaimana kalau menghadapi pimpinan perusahaan yang masih saudara dengan pemiliknya, masihkah peraturan kedisiplinan tersebut berlaku ? atau diberlakukan secara adil dengan karyawan yang lainnya ?

Saya pribadi sempat berpendapat seperti ini :

Ketika susah dalam mengatur orang, maka buatlah sistem atau aturan yang tepat untuk meminimalkan kesalahan. Tapi, semua sistem itu tidak akan berlaku ketika ada kebijakan pimpinan yang tidak sejalan.

Di sini memang perlu adanya kesadaran bersama mengenai pentingnya mematuhi peraturan yang telah di sepakati bersama agar tidak ada sesuatu yang tidak berkenan nantinya.

Tidak seimbang

Dalam hal ini yang saya maksud adalah dalam hal pembagian pekerjaan hingga kompensasi. Sesuatu yang tidak seimbang ini bisa memicu ketidakpuasan dan kecemburuan diantara karyawan. Terkadang, karena sang pemimpin bukan termasuk orang yang ahli di bidangnya sehingga menyerahkan keputusan suatu permasalahan yang seharusnya menjadi tanggung jawab nya justru kepada karyawan lain.

Atau sebaliknya, terkadang pemimpin tersebut justru membuat keputusan atau intruksi untuk hal-hal yang bukan termasuk tanggung jawabnya. Seringkali ini membuat karyawan bingung dan tidak nyaman. Bahkan, bila berlangsung dalam waktu yang lama bisa meruntuhkan moral karyawan.

Jadi, dari beberapa hal diatas memang perlu adanya pemahaman yang mendalam tentang peran dan tanggung jawab anggota keluarga sebagai perwakilan yang di percaya pemilik untuk mengelola dan menjadi pemimpin di perusahaan keluarga tersebut. Hal ini perlu agar ikatan emosi anggota keluarga terhadap perusahaan dapat terjaga dengan baik dan dapat bersinergi dengan karyawan lain yang non-keluarga.

Kata-kata penting yang sampai saat ini saya ingat sewaktu bekerja di konsultan bagian produktivitas adalah :

Tidak ada anak buah yang salah dalam kerja, yang ada hanya pemimpin yang salah dalam memimpin anak buah nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: