Puisi 1 : Terasing Keramaian

Malam itu di coffee cafe suasana makin ramai, banyak anak muda berdatangan, mulai dari mahasiswa yang seperti nya sudah tingkat akhir yang ingin mencari inspirasi dalam tiap ketikan di laptopnya untuk menyelesaikan bab demi bab dalam skripsi nya. Ada sepasang kekasih yang saling berpegangan tangan meski saat sedang memilih menu, seolah tidak akan terpisahkan. Dan juga tidak ketinggalan ada gerombolan karyawan yang sedang melepaskan penat nya urusan kantor dengan membicarakan pimpinannya.

“Oke, jadi gini ya. Aku berharap orang bisa mendengar sama banyak nya seperti saat dia berbicara”, ucap Faris mengawali obrolan.

Faris menambahkan, “Beneran lho, banyak banget yang sudah aku sampaikan untuk bisa di siapkan sebelum meeting tadi, tapi tidak di pakai bro. Ternyata pas meeting malah itu yang banyak di tanyakan sama yang lain.” Kawan-kawan nya mengangguk-angguk paham seolah merasakan hal yang sama. Mereka telah bersama dalam satu departemen planning inventory control cukup lama.

Hari ini terasa agak berat bagi mereka. Politik kantor membuat posisi mereka kian tersudut oleh berbagai kepentingan. Dan inilah waktu yang tepat membahasnya, bersama kawan-kawan senasib sepenanggungan.

Lelah membicarakan urusan kerja, salah satu kawan pamit untuk undur diri pulang lebih dulu. “Istriku udah nungguin nih, udah janji mau makan malam di rumah.”

Beberapa yang lain juga ikut mengakhiri acara nongkrong ini. Ada yang sudah kangen sama anaknya, ada yang di suruh belanja sama istrinya sekalian pulang. Alhasil tinggal lah Faris dan dua orang kawannya yang masih lajang.

“Terus kalian mau alasan apa buat pulang ?” Tanya Faris mendahului. Mereka hanya tersenyum.

“Kamu sih Ris, sampai sekarang betah banget njomblo, kenapa sih ga cari pacar ? Tampang juga lumayan.” Tanya salah satu kawannya menyahut.

“Lah, kok malah nyalahin aku ?” Tanya Faris balik bertanya.

“Faris nih bukannya ga pengen cari pacar bro, hanya saja masih ga bisa lupain cinta pertamanya.” Sahut kawan satu nya.

Faris sejenak terdiam. Berfikir diantara keterkejutannya, apakah memang benar seperti itu. Sontak ia langsung menyanggahnya. “Yang bener aja, kalaupun itu benar, keren dong kalau bisa jadian dan menikah dengan cinta pertama, apa salahnya coba ?”

Kawan-kawan nya hanya tersenyum simpul. Dan acara nongkrong tetap pada akhirnya harus berakhir sebelum larut malam. Dua kawannya sudah ada janji dengan pasangannya masing-masing. Kawan yang satu sudah ada acara dengan pacarnya dan yang satunya ada rencana ke rumah keluarga calon istrinya.

Meja besar itu pun akhirnya sepi. Begitu juga hati Faris. Dia terasing dalam keramaian.

Malam itu, Faris pulang bersama motornya melalui hujan rintik yang tidak terlalu rapat. Perlahan. Ucapan kawannya masih terdengar jelas di telinganya. “Bagaimana kabar nya ya ?” Tanya nya dalam hati.

Waktu berjalan sangat lambat dan udara dinginnya malam mulai mengusik.

Faris merebah di kasur kamar nya. Semua hal disitu adalah saksi bisu perjalanan cinta nya. Ia mengambil secarik kertas dan pulpen, mulai menulis puisi.

Bukan inginku untuk merindumu
Salahku hanyalah telah mengenalmu
Membagi tiap rasa bahkan hatiku
Kemudian hal itu pergi dan berlalu

Aku bukan ingin memilikimu
Hanya rasa itu pergi pun tak mau
Lelah aku menjalani ini tanpamu
Meski aku tahu kau adalah masa lalu

Malam semakin larut. Ia tahu bahwa harus segera tidur karena besok ada pekerjaan yang menunggu nya. Tapi pikirannya mengajak berjalan-jalan ke masa itu. Masa dimana ia pertama kali bertemu dengan seseorang yang mencuri perhatiannya. Terlena.

Segera ia alihkan kembali pikirannya dan menatap secarik kertas berisi puisi nya yang baru di tulis. Ia mengambil perlahan kertas itu. Menyimpannya di dalam lipatan buku agenda yang juga banyak berisi puisi. Lalu di masukkan agenda itu rapi di laci meja belajarnya.

Malam. Cepatlah berakhir.


 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: