Puisi 2 : Cahaya Meredup

Hari baru. Pagi yang cerah. Sinar nya terasa hangat. Menguatkan tiap sendi-sendi tulang ini. Faris sudah siap dengan motornya untuk berangkat ke kantor, tinggal pakai kaos tangan, masker dan helm. Tancap gas ke kantor.

Sesampainya di parkiran motor, seperti biasa, Faris disambut hangat oleh para satpam. Bagi karyawan yang termasuk lama bekerja di perusahaan itu, Faris cukup akrab dengan mereka. Ia paham betul kalau satpam dan petugas kebersihan adalah orang-orang yang hampir tahu apa saja tentang kejadian di kantor bahkan di perusahaan itu. Ibarat infotainment. Mereka bahkan tahu siapa-siapa saja yang terlibat cinta lokasi di kantor, siapa saja yang suka menghabiskan tisu toilet, sampai siapa saja yang sering di kantor sampai malam hanya untuk bermain komputer atau download film.

Faris berjalan santai menuju meja kerjanya. Ia langsung duduk dan menghidupkan komputer. Lanjut ke cek email dan buka beberapa dokumen, sembari menyapa teman – teman kerjanya yang sudah berada di mejanya masing-masing ataupun yang baru saja datang. Mengeluarkan buku agenda dan alat tulis dari tas nya. Merapikan hiasan di meja nya yang berbentuk hati. Cukup feminim untuk ukuran seorang pria, tapi Faris tahu itu hanya sebuah sabun.

Waktu telah tepat pukul delapan. Saatnya bekerja.

Beberapa saat kemudian, beberapa email tentang permintaan konfirmasi masuk satu per satu. Ada barang yang rusak, namun tetap saja dikirimkan ke cabang, sehingga tidak bisa di jual. Ada juga barang yang tidak di pesan oleh cabang, tapi tetap saja dikirimkan, sehingga secara data dan fisik tidak sesuai. Malah, terdapat barang yang sudah lama sekali di pesan oleh cabang, namun tidak juga datang. Membaca email-email itu, perasaan Faris juga mulai merasa tidak enak. Aneh. Dia mulai resah dan segera mencari tahu kronologis permasalahan nya.

Satu per satu.

Ternyata banyak sekali data pendukung untuk menjawab email-email itu. Sesekali dia mulai sedikit lelah dan bersandar pada kursinya. Dia tidak menyangka pagi ini cukup sibuk. Beberapa kali ia terlihat menelfon bagian lapangan di gudang, untuk mengkonfirmasikan data yang ada, agar jawaban yang dia sampaikan nanti bisa akurat.

Tiba-tiba Helen, kawannya sekantor yang meja kerja nya tidak terlalu jauh datang mendekat.

“Eh, Ris… dipanggil bos tuh…?!”

“Ada apa ya len…?” Faris kembali bertanya. Penasaran.

“Eeee, ya mana tahu Ris, di kasih duit kali…!” Timpal Helen mengibaskan rambut panjangnya sambil berlalu menuju meja kerjanya.

Faris melongok sekilas ke ruangan sang bos. Tampak sosok yang kurus, namun selalu rapi dengan rambut yang selalu tampak basah. Raut mukanya datar, tidak terlihat ada emosi di sana. Ketegasan nya terasa dalam tiap aturan dan kebijakan yang di putuskan nya. Tiap hari Selasa, sang bos selalu rapat dengan para pimpinan bagian atau divisi yang lain. Sesekali Faris di ajak ikut untuk mempresentasikan analisa data yang biasanya tentang supply chain.

“Permisi Pak, anda panggil saya ?” tanya Faris.

“Oh iya Ris, silahkan duduk…” ucap sang bos tanpa melepaskan pandangan dari monitor komputernya.

Mereka telah duduk berhadapan.

“Ok Ris, udah baca email pagi ini ya…?” Tanya bos. Faris belum menjawab, sudah ada pertanyaan selanjutnya meluncur dari Sang Bos.

“Aku cek itu setidak nya ada tiga hal yang penting, barang rusak tapi tetap terkirim, tidak pesan tapi ada pengiriman, dan satu lagi kebalikannya, cabang sudah pesan lama tapi barang belum terkirim sampai sekarang…. Itu kenapa ya Ris ?”

Sang bos menutup pertanyaannya dan menyandarkan badan kurusnya di kursi, menatap mata Faris. Menunggu jawaban.

Faris mencoba menjawab dengan perlahan.

“Itu begini Pak, tentang barang rusak yang terkirim itu, saya tidak ada info sama sekali dari bagian pengecekan Pak, jadi ya anggapan saya kalau barang itu ready untuk dikirim.”

Sang Bos memotong, “Apakah kamu tidak melakukan pengecekan juga ke lapangan ?”

“Itu bukan tugas saya Pak, saya kan hanya terima laporan dari tim pengecekan.” Faris menyanggah.

“Ooo… bukan tugas kamu ya…?!” Sang bos bergumam lirih.

“Oke… Lanjutkan…!?” pinta Sang Bos.

Komentar Sang bos yang singkat dan dingin itu seolah menghujam hati nya. Ada percikan api di sana yang bisa membakar sewaktu-waktu. Namun, logikanya mengajak untuk tetap berpikir jernih dan mencoba menjawab pertanyaan dari bos.

“Kalau tentang kesalahan pengiriman itu sepertinya memang kesalahan saya pak. Ada database yang belum di update, sehingga barang yang terkirim salah. Nah, kalau tentang order cabang yang sudah lama belum terkirim, itu saya sudah cek, sepertinya itu kesalahan admin yang di cabang pak. Itu pak…?!” Faris menjelaskan dengan sedikit lebih cepat dari biasanya. Menahan amarah.

“Mhmm Ok, gini, tolong selesaikan email-email itu segera. Saya di cc emailnya ya. Database mu itu, tolong kirim juga ke saya.”

Belum sempat Faris mengiyakan permintaan itu, sang bos menambahkan.

“Oh iya, dan kalau bisa, jangan hanya duduk saja di depan komputermu itu, sering-sering lah kamu berdiri lalu jalan buat ngecek bagian-bagian yang terkait dengan kerjaanmu. Itu untuk pencegahan masalah seperti ini. Kamu, jadi bisa lebih tahu dulu dari pada orang lain.” Sang bos memandang Faris dengan serius.

“Ya sudah, gitu aja. Terima kasih Ris !”

Sang bos mengakhiri pembicaraan itu dan kembali fokus ke layar monitornya.

Faris beranjak dari kursi sambil menganggukkan kepala tanda mengerti tanpa berkata-kata. Ia keluar ruangan dengan perlahan seolah tidak ingin mengeluarkan suara sedikit pun. Wajahnya datar tanpa ekspresi, tapi terlihat sekilas dia sedang berfikir keras. Lengannya berkeringat. Ada pembelaan dalam dirinya yang tidak ingin di koreksi bahkan sampai di salahkan.

Sang bos sesaat melihat sosok Faris yang tampak dari belakan sesudah keluar dari ruangan nya. Berfikir.

Faris kembali ke meja kerja nya. Menghela nafas panjang.

Kawan-kawan di sekitarnya tidak berani melihat apalagi sampai menegur nya.

Ia melihat sabun berbentuk hati yang ada di meja kerjanya. Masih tampak rapi dengan kemasannya meski sudah bertahun-tahun ada bersama nya. Tiba-tiba ada keinginan untuk membukanya.

Dibuka lah kemasan sabun itu. Beberapa saat tercium aroma sebenarnya sabun itu. Aroma nya menenangkan. Membawa benaknya ke masa lalu, masa ketika bersama seseorang yang tidak mudah untuk di lupakannya.

Faris mulai bisa mengendalikan emosi nya. Dia siap melalui sisa hari ini dengan lebih baik.

Ia mulai mengirim email kepada yang terkait satu per satu dengan penjelasan yang lebih lengkap dari biasanya. Ia sedikit sekali berbicara hari ini.

Tanpa terasa sudah mendekati waktu nya untuk pulang. Kali ini dia ingin pulang tepat waktu. Beberapa pekerjaan masih tersisa, tapi ia berpikir masih ada waktu untuk di selesaikan besok.

Ketika jam menunjukkan tepat waktunya pulang, Faris langsung bergegas merapikan mejanya, tas nya, dan juga jaketnya. Ia pulang.

Sekilas Sang Bos nya melihat nya berlalu

Faris tidak langsung pulang ke rumah, melainkan mampir ke kafe biasanya.

Sendiri seperti biasanya.

Menikmati wifi dan secangkir kopi latte seperti biasanya.

Ada kelelahan tampak dari raut mukanya saat itu.

Ia mengeluarkan buku agenda nya untuk mulai menulis barisan puisi sejenak menghilangkan penat dan menyembuhkan sedikit sakit di hati nya.

Tak kusangka aroma itu menyembuhkan
Membawa kisah yang lalu merekah indah
Luka yang ku alami luluh lantak seketika
Api amarah yang terbakar kini telah padam

Aku berbicara padamu, hai masa lalu
Maukah kau sejenak saja mendengarku
Aku merindukanmu sama seperti saat itu
Kau menyisakan aroma ini apakah untukku ?

Sungguh aku tak berdaya menahan malam ini
Pikiran selalu mengajakku untuk berunding
Baik buruknya dan yang mana harus dipilih
Adakah cara untukku mengeluarkanmu dari hati

Faris berharap akan banyak kejutan setelah ini, agar hidupnya tidak lagi memikirkan tentang masa lalu saja. Masa saat dengan bersama seseorang. Cinta pertama nya. Agar cahaya nya tidak makin meredup. Dia ingin sesuatu yang hidup dan bisa menghidupkan nya kembali. Itu adalah doa sembari ia menyelesaikan puisi nya.

“Semoga… semoga makin banyak kejutan…!” Lirih nya.

 


 

Advertisements

One thought on “Puisi 2 : Cahaya Meredup

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: