Puisi 3 : Kehilangan Cahaya

Beberapa kali pramusaji kafe berlalu lalang, sesekali menanyakan apakah ada pesanan lagi. Hari sudah masuk malam. Kebanyakan pengunjung yang datang pada jam ini berniat untuk kumpul bersama teman sekalian makan malam. Tapi tidak dengan Faris, ia hanya duduk sendiri di tempat yang hanya menyediakan dua kursi di meja nya. Karena tidak ingin terlihat kosong, kursi itu buat tempat tas kerja dan jaket nya. Dalam genggaman hanya ada ponsel, yaitu media untuk lebih tahu tentang kabar teman-temannya melalui media sosial, di meja terdapat buku agenda lengkap dengan alat tulis, dan segelas coffee latte, minuman kesukaannya yang sudah tinggal separuh, lalu juga ada satu porsi kentang goreng. Suasana malam yang tepat untuk di habiskan sendiri. Sendirian.

Pikirannya terbang jauh bersama scroll untuk membaca apa yang sedang di alami teman-teman nya di dunia maya. Interaksi tanpa bertatap muka. Ia jadi lebih tahu kabar dua orang teman kerja nya yang masih belum menikah itu. Kawan yang sudah bertunangan sepertinya sedang sedih saat ini, ternyata pihak perempuan membatalkan pertunangan. Kalau dari status nya si perempuan ingin kembali kepada kekasih lama nya. Sedangkan kawan yang masih pacaran justru sedang bahagia, ia telah melamar kekasih nya itu dan sudah menentukan tanggal pernikahan nya. Langsung, tanpa ada acara tunangan. Faris berpikir, begitu mudah nya Tuhan membalikkan keadaan.

Dia tiba-tiba tersadar, “lalu bagaimana dengan keadaan ku, apakah sebentar lagi juga akan berubah ?”

“Aaah, Tuhan tahu kapan waktu yang paling baik….” ia menjawab dengan bergumam sendiri.

Kemudian jari Faris tergoda untuk melihat akun seseorang. Cinta pertama nya. Sekedar ingin tahu. Ia penasaran tentang kabarnya. Setelah beberapa tahun tidak ada kontak sama sekali. Ia mulai masuk ke profil nya, terlihat jelas foto nya dengan model rambut yang baru.

Cantik.

Dia mulai scroll lagi ke bawah, melihat status-status sebelumnya dengan beberapa foto bersama teman-temannya. Tampak bahagia. Status hubungannya juga sudah berubah. Punya kekasih.

Jantung nya berdegup kencang, segera ia menutup aplikasi media sosial itu. Menaruh ponsel nya di meja. Meminum sedikit latte nya. Menghirup nafas yang panjang. Dalam hati Faris bertanya-tanya, “Bukankah dia sudah bahagia ? Bukankah dia sudah melanjutkan hidupnya ke arah yang tepat ? Tapi kenapa justru hatiku yang sakit ? Apakah ada yang salah dariku ? Iya, sepertinya ada yang salah dari diriku.”

“Haruskah aku peduli…?!” Ia menambahkan. Faris mencoba meluruskan pikirannya kembali.

Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya. Kuat dan bersahabat. “Eh, ada kamu Ris…?!”

Sang Bos.

“Sendiri kamu ? Boleh saya duduk disini ? Gabung ?” Tanya sang bos.

Faris hanya bisa mengangguk tanpa berkata karena sangat kaget nya. Dia benar-benar tidak menyangka kalau itu bos nya. Ia hanya langsung membereskan barang-barangnya yang ada di kursi agar Bos nya bisa segera duduk sambil mengangguk-angguk tanda setuju.

Malam telah tiba. Mulai gelap. Cahaya lampu-lampu mencoba menghidupkan nya. Obrolan ringan dapat menghangatkan. Dan makanan yang enak dapat menyelamatkan suasana.

“Udah sering kesini Ris.. ?” Sang bos bertanya, kali ini dengan menatap mata Faris.

“Iya Pak, saya sering kesini.” Jawab Faris singkat.

“Ee, tumben Bapak kesini ya ?” berusaha mencari tahu, karena mungkin saja ini salah satu cara berpolitik kantor yang sering ia rasakan akhir-akhir ini.

“Hah, iya ya. Saya sebenarnya sudah lama ingin kesini. Hanya saja baru sempat sekarang. Mumpung pas pulang kerja tadi saya kok tiba-tiba merasa lapar lalu saya mampir saja kesini, dekat juga.” Sang bos berbicara sambil membolak balik daftar menu yang ada di hadapannya.

Faris merasakan berhadapan dengan orang yang berbeda dengan apa yang dia hadapi di tempat kerja. Kali ini Sang Bos tampak lebih rendah hati, enak di ajak ngobrol, dan wajahnya tidak se kaku ketika di kantor. Dengan santai, Sang Bos memesan makanan dan minuman kepada pramusaji kafe.

“Kamu tidak makan juga Ris… ?” Tanya Sang Bos sekaligus menawarkan.

“Ah, iya Pak. Mas… saya pesan seperti biasa nya saja ya…?” Pinta nya. Dan pramusaji itu langsung mengerti apa yang di maksud Faris..

“Wah, kamu benar-benar langganan prioritas kafe ini ya…?!” Puji sang bos dengan sumringah.

Meskipun sikap sang bos sangat ramah kali ini, seolah tidak ada batas antara pimpinan dan anak buah. Tapi, tetap saja Faris masih merasa kurang nyaman dengan masalah di kantor hari ini. Ia merasa banyak melakukan kesalahan dari kacamata sang bos, padahal itu bukan murni kesalahan nya. Dia merasa perlu menjelaskan masalah itu, agar dia tidak mendapat predikat tidak baik di mata bos nya.

“Pak, mengenai yang tadi di kantor, ada yang perlu saya perjelas pak…” Faris berbicara dengan perlahan namun tegas.

Tersenyum tipis, “Apa yang perlu kamu perjelas lagi Ris…?”

Faris mencoba menjelaskan lebih detil tentang sudut pandangnya, “Begini Pak, memang saya ada yang salah, tapi itu bukan murni kesalahan saya. Bagian lain juga punya kontribusi dengan hal ini. Prosedur yang ada di perusahaan ini memungkinkan bisa terjadi lagi hal serupa di kemudian hari. Artinya, sistem kita lemah Pak. Bakal ada yang mencari keuntungan dari lemah nya sistem ini Pak, memang susah sih Pak mengubah sistem ini, tapi bukan tidak mungkin untuk di lakukan kan…?”

Sang Bos memperhatikan tiap kata yang meluncur dari Faris. Sesekali mengangguk perlahan. Dan ketika Faris telah selesai menjelaskan apa yang ada di pikirannya, sang bos hanya terdiam dan sedikit tersenyum.

“Kamu tahu Ris, hal yang paling mudah di ucapkan tapi sulit di lakukan adalah memperbaiki diri sendiri. Saya tahu sistem itu ada kelemahannya dan memang mungkin bisa untuk mengubahnya, tapi bukankah itu membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit pula ? hal yang paling realistis untuk di lakukan saat ini adalah memperbaiki diri sendiri dulu. Bagian kita dulu. Departemen kita ini. Dan itu bukan perkara mudah lho ?! Justru mungkin lebih sulit dari yang kita bayangkan. Tapi, ini bakal bisa memberi efek buat sesuatu yang lebih besar lagi nantinya.” Sang bos menjelaskan dengan perlahan dan antusias.

Pramusaji menghampiri dengan membawa beberapa makanan dan minuman yang telah di pesan tadi. Sejenak obrolan mereka terhenti untuk obrolan berikutnya yang memberi banyak arti.

“Kita lanjutin ngobrol sama makan ya Ris, saya lapar… ?” pengakuan sang Bos.

Faris menyahut, “Baik Pak…”

Mereka bersantap dengan santai.

Sang Bos kembali melanjutkan, “Saya Ris, saya melihat dengan lingkup yang lebih luas. Tidak terpaku pada masalah yang kamu hadapi tadi saja, tapi dengan masalah-masalah lain. Beberapa hari yang lalu, rekan kerjamu juga sempat ada masalah dan mungkin ada sangkut pautnya dengan kasus mu itu. Nah, dari semua masalah yang ada itu, saya coba cari formulasi yang tepat untuk mencari solusi nya. Bukan untuk mengubah sistem secara keseluruhan, tapi memperbaiki sistem di bagian kita sendiri. Ini agar kita yang kerja di bagian ini bisa dengan nyaman dan aman dalam melakukan tugasnya. Kalaupun ada kesalahan bisa segera tahu penyebab nya apa, kronologis nya seperti apa, dan solusi nya apa. Dari situ saya baru bisa blow up ke rapat pimpinan nanti.”

Faris terlihat memikirkan apa yang sedang di bicarakan sang bos. Ada hal yang masuk di akal nya. Sekarang logika sudah mulai bisa di ajak berdialog.

“Sekarang bayangkan kalau saya minta pada perusahaan buat segera memperbaiki sistem ini, mengubah sistem itu, sedangkan sistem di bagiannya sendiri saja belum benar. Masih ada masalah nya.” Sang Bos menambahkan.

Faris mengangguk, tanda mulai paham arah pembicaraan sang Bos, “Iya pak, saya ngerti…”

“Kita ganti topik saja lah ya…?! Masa ngomongin kerjaan terus…” ungkap si Bos.

“Oh iya, kamu kok sendirian sih di sini ? yang lain bawa pasangan, kamu malah sama Bos mu makan berdua disini.” Tanya Sang Bos sambil tersenyum lebar.

Faris kaget ketika sang bos bertanya seperti itu, “Saya masih belum punya pasangan Pak… he he he…”

“Walah, ya sudah deh ? saya tidak tanya-tanya lagi… he he he”

Malam itu obrolan berjalan hangat dan bermakna terutama untuk Faris, yang mulai mengerti sudut pandang pimpinan dalam menghadapi tiap masalah yang ada di kantor. Ia sebagai anak buah, kadang hanya berpikir dari satu sudut pandang saja, yaitu sudut pandang nya. Sedangkan pimpinan melihat dari berbagai sudut dan selalu berusaha mencari solusi dari tiap permasalahan.

Tidak terasa, hidangan yang ada di meja telah habis.

“Ris, saya habis ini langsung pulang ya. Ini istri sudah nanyain. Oh iya, kali ini aku yang traktir ya” Sang Bos membereskan barang-barang nya dan bersiap untuk segera pulang.

“Iya Pak, Baik. Terima kasih lho Pak.” sahut Faris.

Sang Bos tiba-tiba teringat sesuatu untuk bilang ke Faris, “Satu lagi ya Ris, ini sebagai teman ya bukan antara bos dan anak buah. Segeralah kamu cari pasangan, itu akan melengkapi mu. Cinta itu ada di mana-mana, yang kau butuhkan hanyalah kelapangan hati untuk menerima cinta itu hadir yang bakal menerangi seperti cahaya. Jangan biarkan kamu kehilangan cahaya itu.”

Sang Bos berdiri dan di ikuti juga oleh Faris.

“Ok. Good Luck ya Ris…” Sang Bos menepuk pundak Faris dan berlalu pergi. Sama seperti ketika tiba-tiba tadi datang menghampiri.

Faris mengerti maksud dari perkataan terakhir Sang Bos sebelum beranjak pulang tadi. Ia menatap kosong latte yang sudah hampir habis. Memaknai semua ini menjadi bagian dari cerita hidupnya.

 

Sempat aku terikat pada cinta
Lelah berharap untuk terus terikat
Karena ku tahu itu sangatlah rentan
Terhempas musnah berakhir hampa

Aku merindukan sebuah cahaya
Menerangi setiap jejak langkah
Cinta ini mungkin tidaklah nyata
Apalah guna aku memikirkannya

 

 

Advertisements

One thought on “Puisi 3 : Kehilangan Cahaya

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: