Puisi 4 : Menikmati Gelap

“Aku pingin putus…”

“Kenapa ? Apa ada salah dari aku ? Tolong bilang saja…”

“Enggak… aku cuma pingin putus…”

Hening. Malam itu terasa sangat dingin, gerimis melengkapi nya sudah menjadi sesuatu yang tidak bakal mudah untuk di lupakan. Ada pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Ada rasa marah yang menderu bergemuruh berulang-ulang tidak ingin menerima kondisi seperti ini terjadi. Faris berjalan perlahan di malam yang sepi itu mencoba memahami dan mengambil hikmah yang masuk dalam logika nya tentang keinginan sang perempuan itu untuk memutuskan hubungan ini.

Sayangnya tidak ada yang masuk dalam logika nya.

Ia sudah sampai di kamarnya. Pintu dan jendela tertutup rapat. Tapi masih saja terasa dingin. Hatinya membeku. “Apa yang salah dari diriku..?” pertanyaan yang mengharapkan jawaban. Entah kapan dia akan menemukan jawabannya.

“Ya paling ngga tolong kasih aku alasan kenapa kamu minta putus…?! Kita kan gak ada masalah apa-apa kan ?!”

“… gak semua butuh alasan…aku cuma pingin putus…”
“…kita putus yah…”

Sambungan telfon terputus.

Faris perlahan membuka matanya, “ahh… mimpi itu lagi…”
Ia duduk di pinggiran kasurnya, mengusap muka nya yang sedikit berkeringat, merasakan pegal-pegal di punggung nya. Namun, masih tidak habis pikir kenapa mimpi itu datang lagi. Seperti kejadian itu baru kemarin saja. Ia melihat jam dinding di sudut kamar nya. Menunjukkan pukul 01.35 dini hari. Faris merasakan sesak di dadanya. Ia beranjak dari kasur, bersiap untuk sholat malam. Tidak ada yang bisa menolongnya kecuali Allah SWT. Itu satu hal yang di pegang dan di yakininya.

Beberapa teman kerja sudah berada di meja kerja nya masing-masing. Faris agak siang kali ini, tidak seperti biasanya.
“… tumben jam segini bro…?” celoteh salah satu kawannya.
Faris hanya membalasnya sambil tersenyum, “biasa bro, anak muda…”
Tidak terasa, beberapa jam sudah berlalu. Rutinitas dengan selalu menemukan permasalahan yang berbeda tiap hari nya kadang memang bisa membuat lupa akan waktu. Tiba-tiba salah satu kawan Faris mampir ke meja kerja nya, “eh Ris, lagi sibuk gak ? ada waktu sebentar ?”

Belum sempat Faris mengiyakan, kawannya sudah langsung duduk saja di depan meja kerja nya.
“Woi.. woi… bro… ada apaan nih ? kok kayak penting banget yak…?”

“Bagiku ini penting sih bro…” balas kawan itu.
Si kawan langsung meneruskan, “ini obrolan antar pria aja lho ya, aku ada saudara yang pingin aku kenalkan sama kamu bro, insyaAllah orang nya baik. Dia pingin cari suami bro, barangkali dirimu juga cocok ya Alhamdulillah. Hanya perkenalan aja kok bro…”

Faris sedikit terkejut dengan kabar dan permintaan yang tiba-tiba ini, tapi dia tetap mencoba untuk setenang mungkin. “Sebentar bro… saudara kamu ini cewek kan bukan cowok ?”

“Ya cewek lah bro… gila apa kamu…!” si kawan agak sewot.

“Iya ya bro, bercanda, aku ngerti kok. Emang kapan rencana mau ketemu nya ?” tanya Faris.

“Nanti malam bro, sekalian makan malam, di kafe biasanya itu… gimana ?” si kawan bertanya dengan penuh harap jawaban baik yang di terima nya.

Faris berpikir sejenak, ia tahu hal-hal seperti ini adalah yang tidak terlalu di sukai, seolah ada usaha penjodohan yang di sengaja. Ia ingin sesuatu yang langsung muncul dari dalam hatinya. “Wah, kok mendadak sekali sih bro ? gini aja, coba aku usahakan ya. Kalau kerjaan ini kelar tepat waktu, insyaAllah aku langsung meluncur kesana.”

“Oke, deal…! Terima kasih banyak ya bro !” ucap sang kawan sambil menjabat erat tangan Faris. Kemudian bergegas berlalu meninggalkan nya.

Faris tidak yakin dengan ini. Tapi dia berusaha tidak terlalu memikirkannya, masih banyak pekerjaan yang sedang butuh perhatian.

Hingga waktu pulang kerja kurang lima belas menit lagi, Faris mulai resah dengan kesepakatan itu. Logikanya berpikir itu adalah hal yang membuang waktu, ia tidak perlu harus di jodohkan, dia mampu mencari sendiri sesuai keinginannya. Namun, hatinya juga merasa bahwa ini tentang menghormati undangan seorang kawan, perkara nanti ada tujuan untuk kepada hal perjodohan tergantung nanti, toh juga kesepakatan nya hanya perkenalan saja.

Faris memutuskan untuk datang. Memenuhi undangan itu.

Cantik, adalah kesan pertama yang di tangkap oleh Faris. Memang kerudung bisa membuat kecantikan perempuan tampak jelas terpusat pada wajah yang memakainya. Tutur katanya lembut, sangat tertata. Faris terpancing untuk berbicara banyak hal, karena pertanyaan perempuan itu berkelas yang menyiratkan banyak tahu tentang berbagai hal.

Sang kawan juga larut dalam obrolan yang seru. Mereka bertiga makan malam bersama di kafe biasa dekat kantor sesuai kesepakatan tadi siang. Faris tidak menyangka bahwa pertemuan ini menjadi hidup. Ia senang dan sejenak melupakan kisah yang tercipta untuk selalu di ingatnya.

Tidak terasa sudah hampir jam sembilan malam. Waktunya perkenalan melalui media makan malam itu harus di akhiri. Faris juga mengerti, saat nya berpisah. Mereka bertiga berdiri hampir di waktu yang bersamaan.

“Senang bisa ngobrol banyak denganmu, Ris…” ucap perempuan itu.

“Sama-sama, senang bisa mengenalmu…” kata Faris dengan menjabat tangan perempuan itu.

“Ok Ris, kami pulang dulu ya, insyaAllah kapan-kapan kita bisa bertemu lagi.” tambah sang kawan dengan menepuk pundak Faris. Sang kawan mengerlingkan matanya kepada Faris, tanda terima kasih dalam memenuhi undangan sekaligus membuat malam ini hidup dengan banyak obrolan hangat meskipun baru pertama kali bertemu.

Salah satu kelebihan Faris adalah ia mudah membuat orang lain yang di ajak nya berbicara menjadi nyaman seolah sudah mengenal nya bertahun-tahun yang lalu.

Faris hanya mengangguk dan melihat mereka berlalu perlahan sampai hilang dari pandangan.

Dia mulai membereskan barang-barangnya dan ketika itu ia mencium harum parfum pengunjung kafe yang baru saja melewati meja nya. Aroma nya mengingatkan nya pada masa lalu. Parfum yang sama dengan seorang perempuan yang ingin berpisah dengannya tanpa sebab yang jelas. Tiba-tiba menghilang. Benar-benar hilang.

Faris terduduk kembali. Menghentikan segala aktifitas nya. Dia tak mau berharap apakah yang baru saja lewat adalah perempuan yang sama dengan yang dimaksud. Tapi, rasa penasaran membutakan segalanya. Sambil membawa barang-barangnya, ia beranikan diri untuk melewati perempuan tadi. Memastikan.

Jantung berdegup makin kencang. Menoleh pada perempuan itu dan coba menatapnya. Perempuan itu juga membalas menatap Faris. Kedua mata saling beradu.

Ternyata bukan. Beda orang. Ada rasa syukur dalam hatinya, termasuk juga amarah pada diri sendiri, bahwa hanya karena aroma saja bisa sedikit mengganggu pola pikir Faris. “Sepertinya memang sudah waktunya pulang…” ucapnya.

Faris sudah berada di kamarnya. Langsung menutup pintu dan jendela karena diluar masih terasa dingin. Seminggu yang cukup dingin. Tidak ada tempat yang senyaman ini, dimana tidak ada sama sekali rahasia. Tempat tersimpannya banyak puisi yang sudah tercipta.

Ia menyadari bahwa ternyata masih belum benar-benar melupakan kisah itu. Sampai tersadar pada suatu titik, apakah Faris ingin melupakan atau justru menikmati rasa kehilangan ini. Menikmati gelap.

Entah berapa lama aku terlelap
Dalam tidur dengan mimpi yang sama
Hingga tak berbeda dengan dunia nyata
Tersadar aku jika sudah mulai terdampar

Aku menikmati gelap ini
Tanpa ada yang tahu aku menangis
Merintih sakit berteman sepi
Masihkah berharap ada yang temani

Faris mematikan semua lampu yang ada di kamarnya, hingga satu-satunya sumber cahaya hanya dari jendela. Cahaya bulan. Ia hanya ingin menikmati kesendirian ini. Menikmati dalam gelap. Berharap ada yang menemani. Kali ini ia tidak ingin lekas pagi.

 

Advertisements

One thought on “Puisi 4 : Menikmati Gelap

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: