Puisi 5 : Sesak Dalam Gelap

Keringat tampak membasahi wajah sampai leher, Faris tergesa berjalan menuju meja kerja nya. Tanpa menoleh kanan kiri, fokus nya hanya mengarah pada meja kerja nya.
Ia terlambat.
Beberapa temannya tampak memperhatikan dengan penuh tanda tanya. Tidak biasanya Faris datang terlambat. Ternyata sang bos juga sama herannya dengan yang lain.

“Hei Ris ?! Tumben…” dengan suara yang datar, sang bos bertanya bersamaan dengan tangan yang menepuk pundak nya.

Faris yang agak terkejut berusaha untuk tenang dalam menjawab pertanyaan sang bos, “iya pak, maaf. Pagi ini saya bangun kesiangan.”

“Jangan terlalu sering begadang Ris…” ujar sang bos sambil berlalu kembali ke ruangannya.

Ia memandang sang bos dengan penolakan hati dari pernyataan itu, “bukan begadang, tapi memang tidak bisa tidur”, gumamnya.

Kursor yang terlihat dari monitor komputernya tidak mengetik kan huruf apa pun. Berhenti tidak bergerak. Hanya terus berkedip di satu titik. Faris tidak melakukan pekerjaan apa-apa, meski ia berdiam tenang di meja kerja nya. Pikirannya melayang-layang. Sesaat dia tersadar dan mendapati dirinya begitu tidak memberi manfaat hari ini. “Ada yang salah nih…” ucap nya lirih.

Pikiran nya memberi ide untuk segera menceritakan apa yang tengah dia rasakan kepada orang lain. Sekedar membagi kesedihan agar cepat berkurang dan lama kelamaan bisa hilang segera. Sesak ini makin menjadi hingga membuat Faris seolah tidak bisa bernafas. Rasa ini terlalu sakit untuk di simpan di hati saja.

Sayangnya Faris tidak mempunyai cukup banyak teman dekat yang bisa dengan bebas menceritakan kisah pribadi nya. Butuh pembuktian yang cukup lama bagi Faris dalam memilih teman-teman yang bisa ia percaya. Di dunia kerja nya saat ini sulit sekali mencari hal itu, bahkan tidak ada sama sekali. Berbeda dengan masa sekolah dulu, kawan senasib sepermainan sangat lah mudah di dapat. Sempat ia berpikir untuk menghubungi kawan lama nya, tapi tak kuasa karena mungkin saja saat ini mereka sudah banyak yang berubah. Tidak seperti dulu.

Tiba-tiba muncul nama salah satu rekan kerja nya, Jenny. Selama ini dikenal sebagai seorang kawan yang tidak banyak bicara, namun ketika saatnya berbicara, hampir semua orang tidak menyangka kata-kata yang keluar dari mulutnya. Teratur, runtut dan yang terpenting, menyejukkan.

“Sepertinya ia adalah orang yang tepat untuk saat ini”, pikir Faris.

Tidak beberapa lama, Faris sudah berada di meja kerja Jenny. “Eh Jen, aku ada perlu nih, kapan kamu ada waktu ?”

Sambil menunjukkan beberapa lembar kertas yang tersusun rapi, Jenny berkata, “Kamu tahu ini apa Ris.. ? Ya benar …! ini laporan bulanan yang harus di serahkan sore ini.”

“Oh, aku kira bab pertama novelmu… he he”, mencoba mencairkan suasana. “Tapi, bagiku ini benar-benar penting Jen… aku perlu ngobrol nih… bisa yah yah yah…?!”

Hening.

“Nanti malam aja. Di kafe biasa nya.” Tegas Jenny.

“Akhirnya. Makasih ya Jen. Nanti malem ya.”, Faris memastikan kembali.

“Dan sekarang biarkan aku menyelesaikan laporan ini ya. Tolong.” Pinta Jenny.

“Ok. Ok. Baik. Thanks ya.” Faris segera berlalu.

 

***

 

“Jadi, ada apa Ris…?! Tumben sekali kamu pengen ngobrol denganku. Mendadak lagi.” Tanya Jenny.

“Maaf ya Jen, mungkin aku gak bakal begini kalau gak sesuatu yang mendesak.”

“Tentang kerjaan ?” Tanya Jenny sekali lagi.

“Bisa jadi. Begini, aslinya susah buat ngbrolin ini, karena aku sendiri gak terbiasa cerita pada orang lain. Ok Jen, pernah gak kamu gak bisa melupakan cinta pertama mu ? Sudah sekian lama tapi tetap saja terbayang sampai pada suatu titik dimana rasa itu benar-benar menyiksamu ?” Ungkap Faris perlahan namun cukup jelas di dengar oleh Jenny.

“Oh… jadi ini tentang urusan hati. Kenapa harus membicarakan ini denganku ? Aku juga tidak terlalu pengalaman tentang hal seperti ini ?” Tanya Jenny untuk kesekian kali nya.

“Aiiih… aku nanya malah kamu nanya balik… ? Sudahlah… apa perlu aku jelasin juga bagaimana tersiksa nya aku selama ini ? Aku perlu pendapatmu Jen… ?! Aku pengen mengakhiri perasaan seperti ini ?!”
Kali ini Faris sedikit emosional, sedangkan Jenny malah justru sangat tenang. Seolah sudah menemukan solusi untuk Faris. Wajah nya menampakkan tanpa ekspresi berlebihan. Sesekali meminum teh hijau hangat dari cangkir berwarna putih yang ada di hadapannya.

“Kalau kamu udah pengen mengakhiri perasaan itu, ya udah, langsung akhiri saja. Habis perkara kan ?!” Balas Jenny yang justru memancing emosi Faris.

Mereka saling menatap tanpa berkata.

Lalu terucap kata dari Faris, “Ah… Sepertinya aku salah orang buat di ajak ngobrol…?!”

Jenny tersenyum tipis lalu melepas kacamata dan menaruhnya di meja. Tampak sosok wajah yang jarang sekali di lihat Faris setiap harinya. Ada kecantikan yang tersembunyi.

“Kamu terlalu mengharapkan banyak hal dari tiap apa yang kamu lakukan, Ris.”

“Hah… Maksudmu…?!” Giliran Faris yang bertanya.

“Iya, saat kamu pengen cerita denganku, kamu banyak berharap bahwa aku bisa kasih solusi untukmu, aku bisa kasih petuah bijak yang bakal membuat mu bisa tenang, atau aku bisa jadi teman ngobrol baru buat kamu yang selama ini merasa sendirian. Sama dengan apa yang kamu alami saat ini. Kamu terlalu banyak berharap pada siapa itu… oh iya, cinta pertama mu atau apalah itu nama nya… Kamu terlalu banyak berharap pada nya sampai kamu gak bisa mikir benar atau salah. Kamu terlalu berharap bahwa mungkin suatu hari nanti cinta pertama mu itu bakal menghubungi mu, mengajakmu balikan untuk sekedar memulai kembali. Kamu terlalu berharap agar keadaan nanti bisa sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Kau tahu. Kamu itu manja, Ris….”

Faris tersentak dengan perkataan Jenny hingga tidak bisa berkata apa-apa. Seseorang yang tidak begitu di kenal nya, memberikan kalimat yang membuat hati dan pikiran Faris goyah akan prinsip-prinsip nya selama ini.

“Rasa berharap mu yang terlalu itu membuatmu melewatkan banyak hal indah di sekitarmu” tambah Jenny.

“Kamu menyimpulkan aku terlalu cepat, Jen…” akhirnya Faris bisa berkata.

Jenny meminum teh hijau hangat nya dengan perlahan. Menikmati nya. “Mungkin. Tapi bukan aku yang memulai obrolan ini kan…?! Kembali lagi, maka jangan terlalu banyak berharap pada siapapun.”

Kali ini Faris benar-benar di buat terdiam. Ada sebagian dari dirinya yang membenarkan semua kata Jenny. Namun, yang lain justru mencari pembenaran atas apa yang selama ini dilakukannya. Perdebatan panjang di dalam relung hati Faris.

Berusaha tetap tenang, “Ok, kalaupun apa yang kamu sampaikan itu memang benar, lalu apa yang sebaiknya ku lakukan, Jen…?”

“Aku gak tahu. Rasa sesak yang kamu alami ini adalah kamu sendiri yang menciptakan, ya harus nya kamu sendiri yang menghancurkannya.” jawab Jenny singkat.

Hanya menambah kebingungan Faris. Ia menatap Jenny dengan penuh tanda tanya, seolah ingin bilang, “Wei, apa maksudmu, Jen…?!”

Jenny mengambil kacamata nya yang ada di meja, membersihkan lensa nya dengan kain khusus dan memakai nya kembali. Merapikan tas nya lalu menghabiskan sisa isi di cangkir nya.
“Baiklah, Ris, udah malam waktunya aku pulang. Makasih buat traktiran nya ya.”

“Paling gak, beri aku saran yang menyejukkan, Jen. Seperti yang kamu lakukan sama yang lainnya ketika mereka berbicara tentangmu.” ungkap Faris lirih.

Lagi-lagi Jenny hanya tersenyum tipis lalu ia beranjak dari tempat duduknya sambil merapikan baju nya.
“Ambilah cuti beberapa hari. Berpergian lah, keluar kota atau keluar negeri kalau perlu. Temuilah teman-teman lama mu, ngobrol dengan mereka. Matikan paket data di ponsel mu. Nikmati tiap momen di sekitarmu, bahkan sampai momen terkecil pun.”

Mereka pun berpandangan beberapa saat. Tatapan yang bertemu padu. Hingga salah satu nya pergi dan berlalu. Faris masih memandang punggung Jenny dari kejauhan. Masih di tempat yang sama saat Jenny meninggalkannya.

Mungkin aku terlalu lama dalam gelap
Entah kapan datangnya terang
Hingga aku merasakan sesak di dada
Sampai kapan gelap ini melanda ?

Aku telah menciptakan gelap ku sendiri
Terjaga setiap malam menahan perih
Memberi luka di berbagai sisi hati
Sampai kapan aku bisa menikmati ini ?

Lelah aku akan harapan yang sia-sia
Terhisap makin dalam ke lubang hitam
Menunggu datangnya terang lalu tersadar
Sampai kapan ini bisa berakhir indah ?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: