Puisi 6 : Merindu Terang

Jenny dan tiap perkataan nya semalam membuat Faris terjaga dalam tidur nya. Ia memikirkan tentang banyak hal. Tentang perasaan nya, sikap nya pada dirinya sendiri dan orang lain, bagaimana memperlakukan kenangan masa lalu, dan apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Pertanyaan turunan meluncur deras di benaknya. Apakah dia sudah banyak membuang waktu, seberapa manfaat hidupnya ini, sampai apa rencana hidup nya kelak.

“Apakah aku selemah itu ? Manja ?” ia meminjam kata-kata Jenny yang membuat hati dan logika nya tersentak.

“Aku hanya mengikuti kata hati ini ? bukan kah rasa ini yang nama nya Cinta ? Aku mencintai nya… terlebih ketika dia meninggalkan ku ? Apakah salah aku masih mengharapkan nya ?”

Kali ini dia membiarkan jendela kamarnya terbuka dan membiarkan angin malam masuk dengan sempurna. Ia ingin menghirup dalam-dalam suasana malam ini. Membuat suatu perubahan sempat sesekali terpikir oleh nya, tapi tidak pernah sekalipun dilakukan bahkan sedikit saja menuliskan dalam tiap puisi – puisi nya. Kata-kata Jenny masih tertancap dalam di ingatannya.

Tentang apa yang di sebut cinta
Takkan bisa dirasa hingga ku bahagia
Dalam hening malam ku buka jendela
Kadang kenangan justru buatku tersiksa

Ku tatap gelap ini dengan penuh cerita
Waktu telah buatku memendam tanya
Kini aku mungkin sudah punya jawaban
Sudah saatnya kembali melihat dunia

 

***

 

“Lima hari…?!” tanya sang bos sedikit terkejut. Di tangan nya memegang secarik kertas pengajuan cuti. “Kok mendadak sekali ya ? minimal seminggu lah kamu pengajuan nya, Ris..”

“Iya Pak, Maaf mendadak. Ini karena penting bagi saya, Pak.” jawab Faris dengan menatap dalam-dalam mata sang bos untuk menyakinkan bahwa hal ini perlu untuk di lakukan. Dia merasa tidak bisa konsentrasi kerja beberapa minggu terakhir. Seperti kata Jenny, ia perlu mencari hal baru dalam hidup nya, mendapatkan pelajaran dari banyak momen kecil di sekitarnya.

“Kalau saya sih sebenarnya tidak keberatan, asal kerjaan mu beres, dan ada yang kamu delegasikan selama kamu cuti, tapi gak tahu kalau HRD ?”

“Tolong ya Pak di usahakan…” pinta Faris.

Suasana hening sesaat. “Gini aja ya, sekarang kamu balik kerja, nanti saya panggil…” Faris mengangguk dan perlahan membenarkan letak tempat duduk nya lalu meninggalkan ruangan. Sang bos langsung mengambil gagang telfon yang ada di samping nya. “Halo, iya, Pak Edi ya…? Saya bisa minta tolong…”

Sekilas Faris mendengar suara sang bos barusan. Itu kepala HRD.

Waktu berjalan begitu cepat ketika banyak hal yang di lakukan, namun tidak bagi Faris. Ia tampak tidak melakukan apa-apa mulai dari ruangan sang bos tadi. Sesekali ia cek email, menulis sesuatu di secarik kertas hingga beberapa kali membuat segelas kopi di pantry. Ia mulai gelisah karena belum juga di panggil oleh sang bos.

“Hei, bagaimana kabarmu ?” Sapa Jenny yang tiba-tiba saja ada di hadapan Faris. Ia langsung duduk di samping Faris. “Ada yang mau kamu ceritakan lagi ?”

“Oh, kamu Jen ? gak ada Jen, gak ada cerita. Ntar takut salah orang lagi.” jawab Faris agak ketus. Suasana hati nya sedang tidak enak menunggu approval sang bos.

Mendengar jawaban Faris, Jenny hanya tersenyum kecil seperti kebiasaan nya. “Oke, kau tahu kemana harus menghubungiku dan aku tahu bagaimana menghubungimu. Take care… ?!” meninggalkan Faris yang tanpa berkata-kata.

Sekitar satu jam berlalu. Tampak masih beberapa jam lagi waktu untuk pulang. Kantor ini seolah penjara tanpa jeruji yang mampu menahan seseorang selama tujuh jam bahkan lebih tiap hari nya untuk mengerjakan hal-hal yang tidak bermanfaat secara langsung bagi diri nya sendiri.

Seorang kawan yang lewat, mampir sebentar ke meja Faris, “eh bro, di panggil bos tuh…”

Faris langsung berdiri dan berjalan agak cepat menuju ruangan sang bos. Tampak Jenny memperhatikan dari meja kerja nya.

“Jadi gini, Ris. Pengajuan cuti mu ini di setujui, tapi tidak boleh langsung besok cuti nya. Baru bisa hari Senin minggu depan. Sekarang kan hari Kamis, besok Jumat, bentar aja Sabtu udah libur kerja. Oke ya…”

Meskipun ingin segera cuti, tapi keputusan ini cukup menggembirakan. “Baik Pak !”

“Jangan lupa, siapin kerjaan mu, siapa yang kamu delegasikan buat kerjaanmu ini. Besok siang kamu info saya ya…”

“Baik Pak, Baik…” ucap Faris dengan senyum lebar lalu bersiap untuk keluar dari ruangan ini. Baru saja melewati pintu, Faris dipanggil bos nya lagi. Terhenti dan kembali, “Iya Pak…”

“Have Fun ya…” ucap sang bos.

 

***

 

Di kamar nya, Faris masih merasa bingung apa yang harus dilakukan nya dengan libur cuti yang tadi siang sudah di setujui oleh pimpinan nya. Beberapa kali ia mencoba membuat itinerary, tapi tetap saja tidak ada yang bisa di tulis. Sempat terpikir untuk menghubungi Jenny, sekedar meminta saran, tapi di urungkan nya. Semenjak obrolan di kafe, ia selalu berpikir dua kali bahkan lebih kalau mau berdiskusi dengan Jenny lagi. Seringkali kata-kata yang keluar dari mulut Jenny menusuk perasaan nya. Kritik dan saran sulit di bedakan.

Lelah ia memikirkan nya.

Di tengah lelah nya, ia menyadari baru beberapa jam terakhir ini, ia tidak terpikir tentang cinta masa lalu nya sama sekali. Seolah hilang tiba-tiba. Entah ia perlu bersyukur atau menyesali dengan keadaan ini, dengan keputusan ini.

Mata nya terpejam. Merindu Terang.

Seringkali aku bertanya apa itu cinta
Lelah juga memikirkan cinta tak nyata
Kalau boleh, biarkan aku merasakannya
Sedikit saja, hingga tak lagi penasaran

Cintaku ini belum berkembang sudah patah
Apakah ini cinta yang dibicarakan khalayak
Atau kah hanya aku yang mengira ini cinta
Cepat jawab lah agar waktuku tidak sia-sia

Menantimu membutuhkan pengharapan
Membuatku selalu bertanya apakah itu layak
Aku perjuangkan kenangan lama menghilang
Kini sepertinya itu tidak berarti apa-apa

 

Advertisements

2 thoughts on “Puisi 6 : Merindu Terang

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: