Puisi 7 : Kehangatan Cinta

“Baik, inilah saat nya…!”

Faris sudah siap dengan sebuah tas ransel dan tas kecil yang bisa di slempangkan atau di jadikan ikat pinggang.

“Tapi, kemana ?” Pertanyaan selanjutnya yang membuat nya sedikit bimbang dengan rencana berpergian secara spontan ini.

Ia duduk beberapa lama di kasur kamarnya. Memikirkan rencana apa yang akan dilakukan nya hari ini. Setelah sekian lama memikirkan, ia menemukan suatu kesimpulan bahwa banyak hal yang terjadi tanpa di rencanakan, mungkin ini salah satu nya.

Beranjak dari kasur nya dan mulai menghadapi hari.

 

###

 

Sambil berjalan menyusuri jalan yang mempunyai trotoar pejalan kaki yang cukup besar, sehingga nyaman melalui nya. Sinar matahari pagi hangat menyapa tubuh Faris. Tangan nya yang sedang memeriksa kontak ponsel. Menerka apakah ada kawan nya yang bisa di hubungi untuk sekedar bertemu ataukah ada yang tinggal di sekitar sini untuk sekedar bertamu.

Hari ini tepat hari Sabtu. Ada sebagian yang libur kerja, tapi ada juga sebagian yang masih mencari nafkah. Faris sedikit kembali bimbang, ia kuatir tidak bisa bertemu atau justru mengganggu rencana orang yang ingin di temui nya. Pemikiran itu sejenak menghentikan langkah nya. Buru-buru ia alihkan suara dalam pikiran nya itu. “Kalaupun memang mengganggu, ya sudah berkunjung ke yang lain saja, kalau ternyata orang nya welcome, ya syukur, bisa saling ngobrol. Niat nya kan silahturahim.”

Faris berhenti pada suatu gang yang pernah ia kenal dulu ketika Sekolah Dasar. Gang yang padat bangunan maupun penghuni nya. Gang yang punya banyak cerita ketika ia menikmati pelajaran olahraga. Ketika itu, di sekolahnya hanya punya satu lapangan yang tidak terlalu besar. Kadang harus berbagi dengan kelas lain. Oleh karena itu, seringnya guru olahraga mengajak kami ke lapangan yang lebih besar bahkan besar sekali. Lapangan rumput yang biasa di pakai bermain bola. Lapangan itu dekat dengan rumah beberapa teman Faris, salah satu nya tinggal di gang itu.

“Tidak banyak yang berubah dari tempat ini.” pikir Faris.

Ia tiba-tiba teringat rumah teman semasa SD nya dulu yang sering di jadikan pelampiasan rasa haus usai lelah bermain bola di lapangan. Keluarganya selalu menyediakan minuman dingin dan hal yang menyenangkan adalah bisa minum sepuasnya. Cocok bagi Faris yang saat ini jarang membawa bekal minuman saat olahraga.

Faris mencoba menjelajahi ingatan nya kembali sampai ia bertemu dengan sebuah rumah yang tak asing bagi nya. Cat dinding nya yang berwarna hijau cukup membedakan dengan rumah-rumah lain nya. Pintu dengan ornamen nya masih tidak berubah. Ada lonceng kecil di pojok kanan atas pintu pengganti bel. Faris ingat teman nya selalu membunyikan lonceng itu, lalu pintu terbuka dan ibu nya menyambut dengan membawa hidangan yang menggugah selera.

Faris ragu untuk membunyikan lonceng itu. Ia khawatir kalau yang keluar dari pintu tidak sesuai dengan harapan nya. Mungkin kawan nya sudah pindah rumah dan dihuni oleh orang baru yang dia tidak kenal sama sekali atau kawan nya kerja di luar kota dan yang ada di rumah hanya keluarga nya yang sudah tidak mengenali nya, bahkan sempat terpikir kalau kawan nya sudah meninggal lalu Faris menjadi sasaran cerita keluarga nya tentang kronologi penyebab kematian nya. Banyak yang di pertimbangkan hanya untuk membunyikan sebuah lonceng saja.

Faris membalikkan badan nya. Ia mengurungkan niat untuk membunyikan lonceng itu. Sepertinya ia sudah memutuskan dari berbagai pertimbangan tadi.

“Sebaiknya aku meneruskan berjalan saja…” Pikir nya.

Terdengar suara pintu terbuka dan lonceng sedikit berbunyi. “Faris…?!” Suara dari seseorang yang keluar dari balik pintu dengan tergesa-gesa. “Itu kamu ya…?!”

Faris seketika menghentikan langkah nya. Ia menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Tampak sosok yang familiar di mata nya. Dengan rambut yang keriting tertata rapi, kulit sawo matang, badan tegap dengan tinggi standar. Penampilan yang sangat berbeda dengan apa yang ada di ingatan Faris ketika jaman SD dahulu. “Kosiiiiim…!!!”

 

###

 

“Kalau di pikir…udah lama ya kita gak ketemu, bro…?!” Faris menepuk pundak kawan nya itu bersahabat. “Gak usah di pikir bro… emang sudah lama banget gak ketemu…?!”

Faris tidak menyangka bisa bertemu dengan kawan lama nya itu. Kawan yang pernah menjadi bagian perjalanan masa kecil nya. Waktu itu seolah masih membekas di memorinya meskipun tidak sedikit pula yang hilang sama sekali.

“Bagaimana kabar mu, Ris…?! Sudah berkeluarga kamu sekarang ?!” Tanya Kosim ingin tahu.

Mendengar pertanyaan seperti itu, Faris mencoba santai dan sedikit menutupi resah di hati nya. “Belum lah, Sim. Masih ingin sendiri dulu. Kalau kamu ?”
“Halah, apalagi aku. Mana pernah serius aku sama makhluk yang namanya perempuan itu.” Kosim menjawab santai sambil berlalu ke dapur untuk menyiapkan minuman hangat untuk mereka berdua.

“Hahaha, kamu ini tetep ya, playboy cap kadal…” Faris teringat dengan trademark kawan nya itu ketika SMP. Mereka berdua masih sesekali bertemu karena letak sekolah yang cukup berdekatan. Beberapa berita terbaru tentang perubahan perilaku yang awalnya anak lugu menjadi Kosim yang suka berganti-ganti pacar ketika SMP.

“Meskipun cap kadal, ternyata banyak juga yang bisa di kadalin… ha ha ha.” Sambil menaruh dua gelas minuman kopi susu di meja ruang tamu, Kosim memperjelas argumen nya. “Salah satu fungsi pacar adalah untuk di gonta ganti, Ris. Nah, baru kalau yang namanya Istri itu gak boleh gonta ganti. Cukup satu aja.”

“Haha… logika yang aneh…” mereka tertawa bersama.

“Terus, kamu gimana ? aku denger dari kawan kita Lukman yang satu kampus dengan mu, katanya kamu sempat termehek-mehek sama satu perempuan. Ahhh… kenapa cuma satu sih !” guman Kosim.

“Oh iya, si Lukman ya. Dia tetanggamu sini yah. Dia kerja di Taiwan sekarang kabarnya. Iya bro, pas kuliah dulu. Aku jatuh cinta bro sama perempuan itu. Cinta pada pandangan pertama.” ungkap Faris dengan suara berat mengucapkan nya.

“Cinta pandangan pertama ? masih percaya kau ? yang ada tuh malah nafsu pada pandangan pertama ?” sanggah Kosim yang tidak pernah percaya dengan cinta pada pandangan pertama. Menurutnya itu tidak masuk dalam logika.

“Walah kok bisa gitu kamu, Sim mikirnya ? Perempuan itu punya hati yang baik, itu yang buat aku jatuh cinta” Tanya Faris penasaran.

Kosim mencoba memperbaiki sikap duduk nya, seolah dia kali ini mau berbicara dengan serius tentang filsafat cinta versi nya. “Oke gini ya Ris, ketika kamu pertama kali melihat perempuan cantik, apa yang pertama kali kamu lihat ? hatinya ?! omong kosong lah itu ! pasti yang kamu lihat itu wajah cantik nya entah itu bibirnya dulu, mata nya, alis nya atau yang pertama dilihat justru dada nya dulu besar atau kecil atau malahan bentuk tubuhnya yang seksi atau gak kan ? itu makanya aku bilang nafsu pada pandangan pertama. Ingat kamu laki-laki lho dan dia perempuan.”

“Kamu bilang itu cinta, mungkin itu penghalusan kata dari Nafsu.” Kosim menambahkan segera sebelum Faris menyanggah pernyataan nya.

“Wah, Sim sepertinya kamu belum pernah merasakan nya. Ketika kamu lihat seorang perempuan lalu hatimu berdesir bilang bahwa dialah orangnya. Lalu kamu tidak bisa tidur nyenyak, kemana-mana memikir kan nya, sampai sudah berpisah pun tetap teringat dengan nya. Saat itu terjadi kamu bakal sadar kalau kamu sedang jatuh cinta.” jelas Faris secara perlahan, berharap orang yang di ajak nya bicara mengerti maksud nya.

Mendengar itu, Kosim terdiam sejenak, lalu beberapa saat kemudian dia bilang, “Yakin kamu kalau itu cinta ?”

“Yakin.” balas Faris dengan sangat cekatan.

“Baiklah kalau kamu yakin, bro. Aku ceritakan dikit tentang kisah cinta ku. Sekitar tiga tahun lalu, aku pacaran dengan seseorang disaat aku juga punya beberapa pacar lain saat itu. Awalnya aku merasakan biasa saja, sama lah dengan pacar-pacar ku yang lain hingga beberapa bulan aku berpacaran dengan nya. Aneh nya tiap kali aku bersama nya, hati ku ini terasa tenang, tidak ada beban apa-apa, aku malah ingin sering-sering melihat nya tersenyum. Tanpa sepengetahuan nya, aku memutuskan pacar-pacar ku yang lain hingga dia satu-satu nya pacarku saat itu. Tujuh bulan aku bersama nya dan aku niatkan untuk melamarnya.” Sejenak Kosim terdiam untuk mengingat kembali masa itu.

Faris tidak ingin mengganggu kawan nya yang sedang bercerita itu. Ia hanya diam dan memperhatikan.

“Dan akhirnya, aku melamarnya. Benar-benar melamarnya. Tapi, aku malah melihat nya menangis. Ketika aku bertanya beberapa kali, dia kemudian menceritakan bahwa dia sedang sakit dan waktunya sudah tidak lama. Dia ingin menerima lamaranku itu, tapi dia gak kuasa membayangkan akan segera meninggalkan ku hingga nantinya aku berpredikat duda dengan lebih cepat dari yang bisa di bayangkan”

Faris melihat mata Kosim yang tengah berkaca-kaca dan suaranya tercekat di kata-kata terakhir yang dia ucapkan.

“Dua bulan kemudian ia masuk rumah sakit, dan satu bulan kemudian ia meninggal.”

Faris masih tetap diam, tidak menyangka kawan nya mengalami hal seperti ini.

“Ya, dia akhirnya meninggal. Aku di sampingnya saat itu. Aku melihat senyum terakhirnya. Aku merasakan kehangatan cinta nya. Dan sekarang inilah aku, berusaha memperbaiki kesalahan ku yang pernah aku perbuat. Kembali ke keluarga ku yang telah lama aku abaikan, menyenangkan kedua orang tua ku mumpung masih bisa aku memeluk mereka, berhati-hati untuk tidak bermain-main dengan perasaan orang lain lagi, dan lebih memilih banyak di rumah menemani adik-adik ku kalau tidak benar-benar ada keperluan.”

Mereka berdua saling terdiam, hingga Faris mengucapkan, “bro, aku gak menyangka kamu bisa melalui itu semua, mungkin kalau aku belum tentu bisa.”

“Hahaha….” Kosim tertawa santai. “Ris, Cinta itu membuat orang jadi lebih baik, bukan sebaliknya.”

Mereka berbincang bersama hingga tidak terasa waktu telah berlalu begitu cepat. Dari yang serius, sampai yang penuh canda. Faris merasa telah lama ia tidak merasakan saat-saat seperti ini. Bisa ngobrol dengan bebas dan terbuka tanpa harus ada yang di tutup-tutupi. Banyak hal baru yang di dapatkan hingga menyindir nya secara tidak langsung tentang hubungan dengan kedua orang tua nya, saudara dan teman-teman nya. Ada yang mungkin akan berubah dalam sudut pandangnya melihat dunia.

Menjelang magrib, Faris pamit untuk pulang. Ada yang terbesit dihati untuk segera menemui orang tua nya yang sudah lama ia abaikan. Mereka ada, tapi dianggap tidak ada hingga kadang semua yang terjadi pada dirinya telah ia selesaikan sendiri dengan apa yang menurut versinya benar.

“Bro, aku pamit ya. Terima kasih untuk hari ini. Kapan-kapan kita jadwalkan ketemu lagi ya..?!” Ucap Faris.

“Haha, iya bro. Sama-sama. Terima kasih juga sudah mau mampir.” ungkap Kosim dengan erat menjabat tangan Faris ketika ia menambahkan, “Ris, Cinta itu membuat orang jadi lebih baik, bukan sebaliknya. Cinta juga gak sesempit yang mungkin sempat kamu pikirkan. Be better yah..”

Malam baru saja datang bersama rombongan angin yang terasa lebih dingin dari biasanya kali ini. Lampu-lampu taman di sepanjang jalan dan dari kendaraan yang lalu lang mulai di nyalakan dan beberapa penuh warna seolah membawa semarak dalam penyambutan. Jalanan mulai ramai dipenuhi oleh orang-orang yang pulang dari kerja nya atau karena ini hari Sabtu, maka mungkin banyak juga yang mulai keluar untuk menghabiskan malam agar besok nya ketika libur bisa bangun lebih siang dari biasanya. Saat ini, Faris masih merenungi apa yang terjadi hari ini. Kalau saja Kosim tidak memanggil nama nya pagi tadi untuk menghentikan langkah nya dari ketidakberanian mencoba sesuatu yang belum pasti, mungkin tidak akan terjadi obrolan penuh makna itu dengan seseorang yang telah banyak berubah menjadi lebih baik itu. Ia merasa belajar tentang keberanian, kehangatan cinta, dan menjadi lebih baik.

Faris memilih untuk berjalan kaki sampai nanti tiba di rumah. Ia ingin menikmati suasana malam ini. Pikiran nya sedang memilih-milih kata untuk menyampaikan nya kedalam puis dengan mengisi nya dengan apa yang terjadi pada diri nya.

Banyak hal tak terduga yang terjadi
Seperti hari ini seolah aku terbawa mimpi
Penawar dari setiap perasaan sepi
Memudahkan diriku untuk bersikap berani

Cinta telah menghangatkan ku saat ini
Menyadarkan bahwa aku bisa sembuh dari sakit
Cinta yang membuatku jiwa ini lebih baik
Membawaku menikmati apapun meski itu perih

Aku melihat dari sudut pandang baru kini
Dimana ada banyak sekali rasa selain hanya pahit
Perjalanan sering memberi pengalaman lain
Terima dan renungkan saja kejutan yang Tuhan beri

Waktu masih menunjukkan pukul delapan malam, tapi Faris mendapati Ibunya tertidur lelap di sofa ruang keluarga tepat di depan televisi yang masih menyala. Tampak wajah nya yang sayu. Lelah pulang dari kerja lembur nya hari ini. Sang Ayah masih di luar pulau yang hanya beberapa kali bertemu dengan nya dalam satu bulan.

Agak lama Faris memperhatikan wajah Ibunya. Seseorang yang tinggal serumah, namun jarang ia ajak berbicara. Beberapa kali berusaha untuk memperbaiki keadaan, tapi selalu gagal. Hangga akhirnya Faris selalu kembali kepada kenangan indah nya dulu yang bisa membuatnya sedikit merasa bahagia.

Bahagia semu.

Berusaha untuk tidak menimbulkan suara, Faris masuk ke kamar untuk mengambil selimut lalu kembali untuk menyelimuti Ibu nya. Perlahan tanpa suara. Ia tatap mata Ibunya yang terpejam. “Maafkan aku, Ibu…”

Televisi ia matikan lalu langsung naik tangga menuju kamarnya. Faris ingin segera tidur, tanpa merencanakan esok mau kemana lagi. Biarlah mengalir dulu saat ini. Aku mananti kejutan dari Tuhan.

Dalam hangat nya selimutnya, sang Ibu tersenyum dengan tetap terpejam.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: